NETRA WARGA – Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkesdalduk KB) Kabupaten Trenggalek mencatat ada 41 kasus kecacingan hingga Agustus 2025.
Jumlah kasus cacingan tersebut menurun dibandingkan tahun sebelumnya, yakni 71 kasus pada 2024 dan 83 kasus pada 2023.
Kepala Dinas Kesehatan Trenggalek, dr. Sunarto, menyebut tren penurunan ini menunjukkan adanya hasil positif dari program pencegahan cacingan yang dijalankan.
“Jadi dibanding tahun sebelumnya ada penurunan kasus,” ujarnya, Kamis (21/8/2025).
Anak Masih Jadi Kelompok Paling Rentan
Dari data yang dihimpun, anak-anak masih menjadi kelompok usia paling rentan terinfeksi cacing, meski kasus pada orang dewasa juga tetap ditemukan.
“Kelompok usia yang rentan dari kasus yang ada yaitu pada usia anak, tetapi untuk kelompok dewasa pun juga berpotensi terkena penyakit cacingan,” jelas Sunarto.
Penanganan Jangka Pendek dan Panjang
Untuk jangka pendek, Dinkes memberikan pemeriksaan serta pengobatan kepada pasien yang datang dengan gejala cacingan.
Sementara itu, strategi jangka panjang dilakukan melalui edukasi masyarakat di posyandu dan kegiatan kesehatan lainnya.
“Edukasi tersebut mencakup penguatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), mencuci tangan dengan sabun, membiasakan memotong kuku pendek, menggunakan sabun antiseptis, hingga klorinasi sumber air pasca banjir,” terang Sunarto.
Selain itu, masyarakat juga diimbau selalu menggunakan alas kaki dan memastikan ketersediaan air bersih melalui pemeriksaan bakteriologis.
Obat Cacing Massal Dinilai Efektif
Evaluasi program pemberian obat cacing massal di Trenggalek juga menunjukkan hasil positif.
Menurut Sunarto, temuan kasus cacingan pada anak di bawah 15 tahun, khususnya jenis ascaris dan hookworm, kini sangat kecil.
“Sehingga pemberian obat cacing massal di Kabupaten Trenggalek sangat berhasil untuk menekan kasus kecacingan pada anak,” tegasnya.









