Ada Ribuan ODGJ Ditangani di Trenggalek, Diskesdalduk KB Upayakan Tekan Gangguan Mental

Kepala Dinkes Trenggalek ingatkan bahaya Sound Horeg bagi kesehatan.
Kepala Dinkes Trenggalek ingatkan bahaya Sound Horeg bagi kesehatan.

NETRA WARGA | TRENGGALEK – Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Diskesdalduk KB) Kabupaten Trenggalek terus meningkatkan upaya skrining kesehatan jiwa sejak dini sebagai langkah penting mendeteksi masalah mental sebelum berkembang lebih parah.

Upaya ini dilakukan menyusul jumlah orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang ditangani pemerintah daerah cukup tinggi dan bersifat dinamis.

Berdasarkan data per 22 Desember 2025, Diskesdalduk KB mencatat ada 1.510 ODGJ yang tengah dalam penanganan.

Kepala Diskesdalduk KB Trenggalek, dr. Sunarto menyebut mayoritas penderita berada pada rentang usia produktif.

“Saat ini tercatat ada 1.510 orang dengan gangguan jiwa yang kami tangani, dengan mayoritas ODGJ berada pada usia 15 tahun ke atas,” ungkapnya.

Jika dirinci berdasarkan jenis kelamin, jumlah ODGJ laki-laki mendominasi dengan 943 orang, sementara perempuan tercatat 567 orang.

Sunarto menjelaskan gangguan jiwa tidak muncul tunggal, melainkan dipengaruhi banyak faktor. Menurutnya penyebab umum gangguan kejiwaan di Trenggalek berasal dari kombinasi aspek biologis, psikologis, lingkungan hingga sosial-budaya.

“Faktor tekanan lingkungan dan kondisi sosial ekonomi kerap menjadi pemicu utama munculnya gangguan jiwa,” terangnya.

Untuk menangani hal tersebut, Diskesdalduk KB menerapkan pendekatan promotif, preventif, kuratif hingga rehabilitatif.

Layanan diberikan melalui puskesmas sebagai garda terdepan dan terhubung dengan fasilitas rumah sakit umum maupun rumah sakit jiwa.

“Upaya yang kami lakukan antara lain skrining kesehatan jiwa secara dini di puskesmas maupun melalui aplikasi kesehatan untuk mendeteksi masalah mental sejak awal,” kata Sunarto.

Selain layanan pemeriksaan, pihaknya juga aktif mengadvokasi penghapusan pemasungan dan memastikan penanganan ODGJ sesuai standar medis.

Petugas kesehatan puskesmas melakukan kunjungan rumah secara rutin untuk memantau kondisi pasien di lingkungan komunitas.

“Langkah lain yang dilakukan meliputi penguatan dukungan sosial dan komunitas dengan melibatkan keluarga dan kelompok pendukung,” jelasnya.

Ia menambahkan, Trenggalek juga telah membentuk tim penanggulangan kesehatan jiwa di tingkat masyarakat guna memperkuat intervensi dini.

Pemerintah menyediakan layanan rehabilitasi agar ODGJ dapat kembali berfungsi secara optimal serta mencegah terjadinya kekambuhan.

“Bahkan kami terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk mengurangi stigma dan diskriminasi terhadap ODGJ,” tambahnya.

Melalui pendekatan tersebut, Diskesdalduk KB berharap masyarakat yang mengalami masalah kesehatan mental dapat tertangani dengan cepat dan mendapat layanan yang layak.

“Sehingga setiap individu dapat hidup produktif berdampingan dengan masyarakat,” pungkas Sunarto.***