Budaya  

Sejarah dan Tradisi Nyadran Dam Bagong Trenggalek

Sejarah dan Tradisi Nyadran Dam Bagong Trenggalek
Sejarah dan Tradisi Nyadran Dam Bagong Trenggalek

Netrawarga.comDam Bagong yang terletak di Kelurahan Ngantru, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, merupakan salah satu situs bersejarah penting bagi masyarakat setempat.

Dam Bagong telah menjadi sumber utama pengairan bagi lahan pertanian di berbagai desa di Trenggalek bertahun-tahun lamanya.

Selain menjadi elemen penting dalam sistem pertanian dengan menyediakan sumber air, Dam Bagong juga memiliki sejarah dan tradisi yang melekat erat dengan masyarakat setempat.

Hingga kini, Dam Bagong terus dilestarikan oleh masyarakat sekitar, salah satunya melalui tradisi tahunan, yakni ritual Nyadran Dam Bagong.

Ritual Nyadran Dam Bagong digelar untuk mengenang jasa besar Adipati Menak Sopal yang telah membangun bendungan tersebut sehingga dapat menyuplai air ke lahan pertanian.

Tradisi Nyadran Dam Bagong ini diadakan setiap tahun pada bulan Selo dalam kalender Jawa.

Eksistensi Dam Bagong Hingga Kini

Eksistensi Dam Bagong Hingga Kini

Dam Bagong yang merupakan peninggalan Adipati Menak Sopal ini masih berdiri kokoh dan tetap menjadi sumber air hingga saat ini.

Hal tersebut membuktikan bahwa peran Dam Bagong sebagai sumber air dalam sektor pertanian tetap signifikan.

Dengan sumber air dari Dam Bagong, sekitar 800 hektar sawah di Kecamatan Trenggalek, Pogalan, dan Durenan tetap dapat diairi.

Bupati Trenggalek, Moch. Nur Arifin menjelaskan bahwa Dam Bagong dibangun oleh Ki Ageng Menak Sopal pada abad ke-16.

Kehadiran Dam Bagong ini telah meningkatkan hasil panen masyarakat, sehingga Menak Sopal dikenang sebagai Pahlawan Pertanian Trenggalek atas jasanya tersebut.

Menak Sopal Sang Pahlawan Pertanian Trenggalek

Makam Menak Sopal

Ki Ageng Menak Sopal dikenal sebagai keturunan Majapahit dan seorang tokoh berpengaruh di Trenggalek dengan membangun Dam Bagong.

Berkat jasanya dalam membangun Dam Bagong, pertanian di Trenggalek menjadi lebih makmur dan produktif ketimbang masa sebelumnya.

Sejak muda, Menak Sopal aktif dalam menyelesaikan permasalahan masyarakat, termasuk mengatasi kekeringan dengan membangun Dam Bagong.

Manak Sopal memiliki ide membangun bendungan yang dinamakan Dam Bagong sebagai solusi irigasi bagi Trenggalek yang mengalami kesulitan sumber air.

Dengan adanya Dam Bagong ini, masyarakat Trenggalek mampu melakukan panen hingga tiga kali dalam setahun.

Tradisi Penghormatan Jasa Menak Sopal

Menak Sopal Sang Pahlawan Pertanian Trenggalek

Sebagai Pahlawan Pertanian bagi Trenggalek, jasa Ki Ageng Menak Sopal terus dikenang oleh masyarakat melalui tradisi tahunan Nyadran Dam Bagong.

Dalam sejarahnya, dahulu Menak Sopal meminjam gajah putih dari Mbok Roro Krandon, ternyata akad meminjam dengan kenyataan berbeda saat pembangunan Dam Bagong.

Gajah putih tersebut justru disembelih dan kepalanya dilarung di Dam Bagong.

Untuk mengenang upaya Menak Sopal dan keikhlasan hati Mbok Roro Krandon, hingga saat ini masyarakat melarungkan kepala kerbau bule ke Dam Bagong sebagai pengganti kepala gajah putih.

Ritual Nyadran Dam Bagong menjadi simbol rasa syukur masyarakat kepada Tuhan dan penghormatan terhadap perjuangan Ki Ageng Menak Sopal.

Tradisi Nyadran Dam Bagong juga menjadi wujud penghormatan masyarakat Trenggalek terhadap peran penting Menak Sopal yang membawa kemakmuran lewat pembangunan.

Tradisi Nyadran Dam Bagong

Kepala Kerbau Nyadran Dam Bagong

Nyadran Dam Bagong diadakan setiap tahun sebagai bentuk syukur dan penghormatan kepada Ki Ageng Menak Sopal.

Ritual Nyadran Dam Bagong biasanya dilaksanakan pada hari Jumat Kliwon di bulan Selo dalam kalender Jawa.

Prosesi tradisi Nyadran Dam Bagong diawali dengan kirab kerbau bule dari Desa Kerjo, Kecamatan Karangan, menuju Pendapa Manggala Praja Nugraha.

Pada tahun 2024 lalu, kerbau yang digunakan untuk tradisi Nyadran Dam Bagong diberi nama Suryo Maeso Tunggo.

Setelah itu, kerbau diserahkan kepada masyarakat Kelurahan Ngantru untuk disembelih sebelum dibawa menuju Dam Bagong.

Kepala kerbau dan beberapa bagian tulangnya kemudian dikirab ke makam Ki Ageng Menak Sopal yang dekat dengan Dam Bagong untuk dilakukan doa dan ziarah.

Selanjutnya, kepala kerbau dibawa ke Dam Bagong untuk dilarung ke aliran sungai.

Prosesi pelarungan kerbau di Dam Bagong menjadi momen yang sangat dinantikan oleh masyarakat.

Banyak warga yang langsung menceburkan diri ke Dam Bagong begitu kepala kerbau dilemparkan.

Kerbau sebagai Simbol Kerja Keras

Kerbau yang digunakan dalam tradisi Nyadran Dam Bagong melambangkan kerja keras dan dedikasi.

Kepala kerbau yang dilarung di Dam Bagong tersebut merupakan simbol kekuatan dan kegigihan, yang mencerminkan nilai-nilai yang dibutuhkan untuk meraih kesuksesan.

Kerbau yang didapatkan dari tradisi Nyadran Dam Bagong juga menjadi simbol kehormatan dan kepercayaan masyarakat.

Tradisi Nyadran Dam Bagong adalah tradisi tahunan yang diselenggarakan di Desa Ngantru, Kabupaten Trenggalek.

Tradisi Nyadran Dam Bagong sarat akan nilai-nilai positif seperti keikhlasan, tanggung jawab, musyawarah, dan kerja sama.

Lokasi Dam Bagong

Masyarakat Trenggalek dan wisatawan dari luar daerah dapat menyaksikan prosesi tradisi ini setiap tahun di Dam Bagong.

Lokasi Dam Bagong yang berada tidak jauh dari Alun-Alun Trenggalek, sehingga mudah diakses.

Selain itu, jalan menuju Dam Bagong juga dapat dilalui oleh kendaraan roda dua dan roda empat, meksipun nantinya harus sedikit berjalan kaki untuk mencapai titik lokasi.

Jika membutuhkan panduan menuju lokasi Dam Bagong, masyarakat dapat mengikuti petunjuk di aplikasi peta digital.***