NETRA WARGA – Di tengah riuh lalu-lalang warga di Alun-alun Trenggalek dan pelataran Pasar Pon, terdapat sebuah sudut yang menawarkan jeda.
Sebuah lapak buku sederhana, digelar di atas tikar atau meja lipat, mengundang orang-orang untuk berhenti sejenak.
Inilah Perpustakaan Jalanan Trenggalek atau akrab disapa Perjal, komunitas literasi yang sejak 2016 konsisten membuka ruang baca gratis untuk masyarakat.
Perjal bukan sekadar menyediakan buku, melainkan menghadirkan ruang komunal.
Di sini, siapa saja bisa menyelami bacaan, berdiskusi, atau sekadar duduk bersama menikmati suasana.
“Kami membuka lapak di CFD, mengajak masyarakat membaca bersama,” kenang Fikri Akbar, salah satu anggota Perjal, saat ditemui tim redaksi Netra Warga.
Dari Buku Jombang ke Jalanan Trenggalek
Awal mula Perjal berangkat dari sebuah buku yang dibawa pendiri pertamanya dari Jombang.
Buku itu kemudian menjadi cikal bakal lapak kecil di Car Free Day Trenggalek pada 2016.
Antusiasme mulai muncul, pengunjung datang, sebagian ikut menyumbangkan buku, sebagian lain sekadar mampir membaca.
Seiring berjalannya waktu, terutama pada 2018, komunitas ini semakin dikenal.
Banyak warga yang ikut terlibat, baik sebagai relawan maupun pembaca.
Menariknya, Perjal tak berbentuk organisasi formal dengan struktur resmi.
“Kami adalah perkumpulan spontan yang ingin berbagi kecintaan pada buku,” kata Fikri.
Koleksi dan Kerja Sama dengan GMBB
Kini Perjal memiliki sekitar 60–70 judul buku, mulai dari sastra, sejarah dunia, hingga bacaan populer.
Untuk menjaga koleksi tetap segar, mereka bekerja sama dengan komunitas Gak Malu Baca Buku (GMBB).
Sistem peminjaman buku pun dibuat unik: pengunjung harus hadir minimal tiga kali atau menukar dengan buku lain.
“Syarat ini untuk memastikan buku terus berputar dan menjangkau lebih banyak pembaca,” jelas Fikri.
Dengan cara itu, setiap buku punya kesempatan lebih besar untuk berpindah tangan dan menginspirasi orang baru.
Pandemi dan Tantangan Regenerasi

Seperti banyak komunitas lain, pandemi Covid-19 menjadi pukulan telak.
Aktivitas lapak berhenti total, dan pasca pandemi, geliatnya belum sepenuhnya pulih.
“Kami hanya membuka lapak biasa, tidak seperti dulu,” ujar Fikri.
Tantangan terbesar datang dari regenerasi. Jika dulu ada sekitar 10 anggota aktif, kini hanya tersisa dua orang.
“Sulit menemukan anggota baru yang punya komitmen sama,” tambahnya.
Meski demikian, semangat Perjal tak padam. Kini mereka lebih fokus mencari pembaca aktif ketimbang sekadar memperbanyak buku.
Lapak, Catur, dan Mewarnai
Meski serba terbatas, antusiasme masyarakat terhadap Perjal masih cukup baik.
Setiap kali membuka lapak, rata-rata ada sekitar 10 pengunjung.
Mereka datang dengan berbagai alasan: penasaran, mencari bacaan, atau sekadar ingin mencoba sesuatu yang baru.
Untuk menarik lebih banyak kalangan, Perjal juga menambahkan program pendukung.
Ada kegiatan mewarnai untuk anak-anak dan permainan catur bagi remaja maupun orang dewasa.
Lapak-lapak ini biasanya hadir di malam Minggu, menjadi bagian kecil dari denyut kehidupan kota Trenggalek.
Menjaga Api Literasi
Perjal barangkali tak memiliki gedung megah atau ribuan koleksi.
Namun, semangat yang dijaga komunitas ini menjadi bukti bahwa literasi bisa tumbuh di mana saja.
Di tengah keterbatasan dan tantangan regenerasi, mereka tetap konsisten menghadirkan ruang baca.
“Kami berharap, meski kecil, langkah ini bisa terus menginspirasi orang untuk membaca,” tutup Fikri dengan nada penuh harap.
Perpustakaan Jalanan Trenggalek menunjukkan bahwa cinta literasi tak membutuhkan ruang formal.
Cukup tikar di trotoar, tumpukan buku sederhana, dan sekelompok orang yang percaya bahwa membaca adalah jalan menuju perubahan.







