Nongkrong Depan Minimarket Bisa Atasi Gangguan Mental Remaja

Ilustrasi seorang remaja yang mengalami masalah kesehatan mental. (Foto: Unsplash)

NETRA WARGA | Kesehatan mental kini menjadi perhatian utama di Indonesia, dengan dampaknya yang meluas hingga kesehatan fisik jangka panjang.

Berdasarkan data dari who.int, gangguan kesehatan mental telah menjadi faktor penyebab bunuh diri ketiga tertinggi di dunia bagi kelompok usia 15–29 tahun.

Hal ini juga tercermin di Indonesia, di mana survei Kesehatan Jiwa Remaja Nasional (I-NAMHS) yang dilakukan oleh ugm.ac.id menemukan lebih dari 17 juta remaja usia 10-17 tahun memiliki masalah kesehatan mental.

Dalam survei tersebut, sebanyak satu dari tiga remaja mengalami masalah kesehatan mental, dengan gangguan kecemasan umum (3,7%), gangguan kecemasan mayor (1,0%), gangguan perilaku (0,9%), PTSD, dan ADHD (0,5%) sebagai jenis yang paling umum.

Namun, hanya 2,6% dari remaja ini yang mendapatkan akses ke layanan kesehatan mental dalam setahun terakhir.

Akibat terbatasnya akses ke terapi formal, banyak remaja mencari cara alternatif.

Sebuah fenomena unik muncul, di mana remaja memilih duduk di depan minimarket sambil menikmati minuman kemasan sebagai cara untuk mencari ketenangan.

Alih-alih menjalani terapi perilaku kognitif, mereka memanfaatkan momen ini untuk merefleksikan diri, mengamati orang-orang di sekitar, dan mengubah pola pikir negatif menjadi positif.

Dengan pengamatan sosial sederhana ini, mereka menemukan cara untuk memahami perilaku sosial yang tepat.

Meski begitu, beberapa remaja memilih mencari ketenangan sederhana ini daripada terjebak dalam kecanduan obat-obatan terlarang atau narkotika. Kondisi ini menunjukkan kebutuhan mendesak untuk penyediaan akses yang lebih baik terhadap layanan kesehatan mental.

Fenomena ini menyoroti tantangan akses layanan kesehatan mental di Indonesia. (Lia)