NETRA WARGA – Apa jadinya jika waktu bukan sekadar angka di jam tangan, melainkan entitas yang hidup?
Bukan cuma saksi bisu perjalanan hidup manusia, tapi juga ikut menentukan arah kisah, memilih untuk berpihak atau menghukum?
Film Sore: Istri dari Masa Depan arahan Yandy Laurens mengajukan pertanyaan-pertanyaan semacam itu lewat kisah cinta lintas waktu antara Jonathan dan Sore.
Jonathan, diperankan Dion Wiyoko, adalah seorang fotografer yang gemar mengabaikan kesehatannya sendiri.
Di tengah hidupnya yang sembrono, hadir sosok Sore—diperankan Sheila Dara—yang dengan sabar mencoba memperbaiki pilihan-pilihan Jonathan agar masa depan mereka tidak runtuh.
Yang mengejutkan, Sore bukanlah perempuan biasa. Ia datang dari masa depan, membawa pesan sekaligus misi untuk menyelamatkan orang yang ia cintai.
Namun film ini tak sebatas menyoal romantisme perjalanan waktu.
Sore menyuguhkan tafsir yang lebih dalam: waktu bukan sekadar latar, melainkan tokoh utama.
Ia hadir sebagai karakter yang mengarahkan takdir, seperti Tuhan yang diam-diam mengatur ulang semesta.
Pengamat film dan dosen program studi film Binus University, Ekky Imanjaya, bahkan menyebut waktu sebagai “aktor ketiga” dalam film ini.
Dalam esai reflektifnya, Ekky mengajak penonton tak hanya menonton, tapi berdialog dengan film yang telah menembus 1,7 juta penonton di hari ke-14 penayangan itu.
Sebuah ajakan untuk menyelami waktu bukan hanya sebagai konsep fisika, tapi juga sebagai pengalaman emosional yang membentuk luka, pilihan, dan harapan.
Film ini menyentuh ranah personal: trauma yang belum sembuh, kesempatan yang bisa saja lewat begitu saja, dan cinta yang berani bertahan melawan segalanya.
Sore mengajak kita memandang waktu bukan hanya sebagai sesuatu yang berjalan di luar tubuh, tapi juga hidup di dalam: di benak, di kenangan, dan di tiap keputusan yang belum kita buat. (Lia)







