Dillem Wilis Produksi Kopi Sejak Masa Kolonial Belanda

Pabrik kopi Dilem Wilis telah beroperasi sejak masa kolonial Belanda.

NETRA WARGA | Trenggalek- Kawasan Dillem Wilis di Desa Dompyong, Kecamatan Bendungan, Trenggalek, menyimpan sejarah panjang peninggalan kolonial Belanda.

Terletak di lereng Gunung Wilis pada ketinggian sekitar 800 meter di atas permukaan laut (MDPL), Dillem Wilis dulunya merupakan perkebunan kopi yang dikelola oleh perusahaan Belanda.

Hingga kini, lokasi ini masih aktif memproduksi kopi dan telah berkembang menjadi destinasi wisata sejarah dan edukasi, yang menawarkan pengalaman unik tentang perkebunan dan peternakan bagi pengunjung.

Menurut informasi yang dihimpun dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Dispertapan) Kabupaten Trenggalek, Dillem Wilis awalnya dikelola oleh perusahaan swasta Belanda bernama Roos Tangler & Co sejak tahun 1929.

Perkebunan ini mencakup 22 hektare dari total lahan seluas 180 hektare, dan didirikan sebagai pusat produksi kopi yang menandai era tanam paksa di Bumi Menak Sopal.

“Kami masih menelusuri sejarah kolonial yang terkait dengan Dillem Wilis, agar asal-usul kepemilikannya lebih jelas. Berdasarkan cerita warga, perkebunan ini sudah dikembangkan sejak tahun 1800-an sebagai perkebunan kopi Belanda,” kata Imam Nurhadi, Pelaksana Tugas Kepala Dispertapan Trenggalek.

Bangunan pabrik beserta peralatan kopi berteknologi Belanda masih berdiri kokoh hingga saat ini, meskipun pernah mengalami serangan dari Jepang saat Perang Dunia II.

Menurut Nurhadi, Jepang sempat berusaha menghancurkan pabrik tersebut dengan serangkaian serangan, namun bangunan itu berhasil bertahan.

“Ketika Jepang masuk, mereka mencoba membakar dan menghancurkan pabrik ini. Meski sudah dibombardir tiga kali, pabrik kopi tetap utuh. Hanya rumah pengelola Belanda yang hancur, tetapi sisa fondasinya masih bisa ditemukan,” jelasnya.

Setelah Jepang pergi, Belanda kembali dengan agresi militer kedua pada tahun 1948-1949. Pada periode ini, pengelolaan Dillem Wilis mulai beralih ke tangan masyarakat Indonesia.

Seorang tokoh militer dari TNI bernama Muslim kemudian mengambil alih kepemilikan Dillem Wilis atas nama Indonesia, dan perkebunan ini pun akhirnya diserahkan kepada pemerintah pusat pada tahun 1958.

Selama puluhan tahun, Dillem Wilis berada di bawah pengelolaan pemerintah daerah. Pada tahun 2018, kawasan ini resmi dikelola oleh Unit Pelaksana Teknis (UPT) Taman Sains dan Teknologi Pertanian (TSTP) di bawah Dispertapan Trenggalek.

Pengembangan Dillem Wilis sebagai destinasi agrowisata edukasi ini bertujuan untuk melestarikan nilai sejarahnya sekaligus memperkenalkan pertanian dan perkebunan kepada masyarakat luas.

Pengunjung yang datang ke Dillem Wilis bisa menikmati wisata sejarah sembari melihat bangunan-bangunan lawas bekas pabrik kopi serta proses pengolahan kopi yang masih berjalan.

Bagi masyarakat sekitar, Dillem Wilis bukan sekadar tempat wisata, tetapi juga pengingat akan masa penjajahan Belanda yang memberlakukan tanam paksa, menyebabkan penderitaan bagi para pekerja lokal atau pribumi.

“Pekerjanya dulu sebagian besar adalah pribumi, dan keturunan mereka masih ada di sekitar Dillem Wilis hingga saat ini,” tutup Nurhadi.

Dengan statusnya sebagai kawasan agrowisata, Dillem Wilis tidak hanya menjadi saksi sejarah panjang masa penjajahan tetapi juga berperan dalam memperkenalkan dan meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pertanian, perkebunan, dan peternakan.

Ke depannya, kawasan ini diharapkan mampu menarik lebih banyak pengunjung, terutama bagi mereka yang tertarik pada wisata sejarah dan edukasi berbasis lingkungan di Trenggalek.***

Penulis: Ahmad Bahrul Anwar

Editor: S Munawaroh