Wisata  

Kuliner Legendaris Gojang Iwala Bertahan Sejak 1970-an

Dapur kuliner legendaris gojang iwala di Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek.

Netrawarga.com– Di tengah aroma dapur berasap dan dinding hitam pekat yang menjadi saksi waktu, warung sederhana di Desa Margomulyo, Kecamatan Watulimo, terus menghadirkan cita rasa autentik yang tak lekang oleh zaman.

Kuliner legendaris ini dikenal dengan nama Gojang Iwala yang merupakan akronim dari “Sego Jangan Iwak Laut” atau dalam bahasa Indonesia berarti “nasi sayur ikan laut”.

Kuliner legendaris ini menyajikan nasi lodeh dan ikan laut goreng sebagai menu andalan sejak 1970-an. Warung ini kini dikelola oleh Maryatin (58), generasi kedua dari pendirinya, Mbah Ginah.

Setiap hari mulai pukul 03.30 WIB hingga 16.00 WIB, Maryatin bersama tiga tenaga masaknya menyiapkan sajian khas ini di dapur sederhana mereka.

“Dulu yang terkenal adalah warung ibu saya, Mbah Ginah. Dari kecil, saya melihat ibu berjualan nasi lodeh dan ikan laut goreng. Sekarang saya melanjutkan tradisi itu,” ungkap Maryatin saat ditemui di warungnya.

Cara memasak yang dilakukan juga masih manual yaitu menggunakan tungku kayu sebagai alat utama dalam memasak yang menambahkan nuansa legendaris.

Setiap hari, warung ini mampu menyajikan 10 kilogram ikan goreng dan menghabiskan sekitar 8 kilogram nasi.

Dengan harga Rp 6.000 per porsi nasi lodeh, dan tambahan Rp 2.000 per potong ikan goreng, pendapatan harian warung ini bisa mencapai Rp 800.000.

“Ikan laut yang saya gunakan adalah hasil tangkapan nelayan. Jenisnya tergantung musim. Hari ini, kami menyajikan ikan layur goreng,” jelas Maryatin.

Selain ikan laut goreng, sayur lodeh di warung ini juga menjadi daya tarik. Bahan-bahannya bervariasi seperti labu siam, kacang panjang, tewel, hingga rebung ketika sedang musim.

Rasa lodehnya khas dengan bumbu yang tidak terlalu pedas, sedangkan ikan gorengnya renyah berkat taburan tepung, memberikan sensasi gurih dan asin yang pas.

Dengan warung yang hanya berukuran 6 meter persegi, Maryatin mampu menyekolahkan kedua anaknya hingga tingkat Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

“Alhamdulillah, hasil dari jualan ini bisa membantu menyelesaikan pendidikan anak-anak saya,” ucapnya dengan senyum bahagia.

Pelanggan Gojang Iwala sendiri bervariasi, mulai dari warga setempat, nelayan, hingga wisatawan yang datang ke Watulimo.

Maryatin menambahkan, saat musim durian atau ikan warungnya selalu ramai pengunjung.

“Kalau sedang musim buah, ramai sekali. Kalau tidak musim, pelanggan stabil, kebanyakan wisatawan yang ingin mencoba ikan laut khas sini,” tutupnya.

Dengan cita rasa yang tetap dipertahankan selama puluhan tahun, Gojang Iwala tidak hanya menjadi kuliner legendaris, tetapi juga warisan budaya yang patut dibanggakan.***