NETRA WARGA – Pembangunan Pelabuhan Prigi di Kecamatan Watulimo terus menunjukkan perkembangan positif.
Meski belum rampung sepenuhnya, pelabuhan Prigi sudah bisa difungsikan untuk sandaran kapal.
Kabid Pelayaran dan Keselamatan Transportasi Dinas Perhubungan Trenggalek, Ika Merin Setyarto, memastikan fasilitas utama pelabuhan telah siap digunakan.
“Sebenarnya kalau dari segi perlengkapan sudah bisa untuk bersandar kapal. Namun, pembangunan belum 100 persen rampung,” ujar Ika.
Pelabuhan Strategis Jalur Selatan Jawa
Pelabuhan Prigi dirancang menampung kapal hingga kapasitas 5.000 deadweight tonnage (DWT) dengan muatan maksimal 25.000 ton.
Meskipun operasional penuh belum berjalan, pelabuhan ini pernah difungsikan, salah satunya ketika kapal milik Kementerian Kelautan bersandar akibat cuaca buruk pada 16 Juni lalu.
“Dari situ sudah bisa membuktikan bahwa Pelabuhan Prigi sudah dapat digunakan untuk sandar dan aman,” tegas Ika.
Sebagai pelabuhan pengumpan lokal di jalur pelayaran perintis selatan Jawa, Pelabuhan Prigi menempati posisi strategis.
Lokasinya yang dekat dengan Australia membuka peluang pengembangan perdagangan internasional sekaligus mendukung sektor pariwisata.
“Untuk rute rencana dilakukan ke arah timur. Jadi dari Trenggalek ke Banyuwangi, begitu pun sebaliknya,” tambah Ika.
Potensi Perikanan dan Pariwisata

Selain mendukung pengiriman kontainer hasil laut, pelabuhan ini juga diyakini mampu menunjang pariwisata regional, mencakup Blitar, Kediri, hingga Trenggalek.
Pembangunan Pelabuhan Prigi mendapat penguatan sejak revisi Rencana Induk Pelabuhan Nasional (RIPN) tahun 2014.
Status sebagai pelabuhan pengumpan lokal hingga 2027 ditegaskan melalui Keputusan Menteri Perhubungan No. KP 432/2017.
Berbagai dokumen pendukung telah disiapkan, mulai dari studi kelayakan, DED, rencana induk pelabuhan, hingga AMDAL.
Lahan seluas 11.030 meter persegi juga sudah bersertifikat sejak 2018–2019 sebagai dasar pembangunan.
Infrastruktur dan Pekerjaan Rumah
Sejumlah infrastruktur utama sudah berdiri, meliputi dermaga tahap pertama berukuran 75 meter x 10 meter, trestle sepanjang 60 meter x 8 meter, serta causeway sepanjang 260 meter x 8 meter.
“Untuk dermaga rencananya memiliki panjang 150 meter. Tapi untuk kelanjutan pembangunan itu masih bagian dari provinsi,” jelas Ika.
Meski demikian, masih ada pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan, terutama soal ketersediaan muatan balik bagi pelayaran perintis.
Dishub Trenggalek kini melakukan penelusuran data pasar untuk memahami kebutuhan barang keluar dan masuk, sekaligus mendorong penyelesaian tata ruang pelabuhan, izin reklamasi, serta konektivitas dengan Jalan Lintas Selatan (JLS).












