NETRA WARGA | TULUNGAGUNG – Bentang alam marmer Tulungagung dan gugusan batuan karst di wilayah selatan selama ini menjadi ikon sekaligus tulang punggung industri marmer Campurdarat.
Namun di balik gemerlap produk kerajinan yang dikenal hingga mancanegara, terdapat cerita panjang tentang asal-usul geologis yang dramatis—serta ancaman menipisnya deposit yang kini mulai terasa dampaknya.
Di atas permukaan, yang terlihat mungkin hamparan bukit kapur dan deretan pengerajin marmer yang tiada henti bekerja.
Namun di bawahnya, sejarah bumi menyimpan kisah jauh lebih tua. Pegunungan kapur yang kini berdiri kokoh ternyata dulunya merupakan dasar laut dangkal yang terangkat jutaan tahun lalu akibat pergerakan lempeng bumi.
“Pegunungan kapur yang ada di Tulungagung ini masuk pada Formasi Kendeng Kidul,” jelas Dwi Cahyono, sejarawan dan Dosen UIN SATU Tulungagung.
Proses terbentuknya kawasan tersebut, kata dia, berkaitan dengan fenomena geosinklinal—yakni gerakan naiknya lapisan kulit bumi dari dasar laut menuju permukaan.
Asal-Usul Geologi Marmer Tulungagung
Menurut Dwi, Tulungagung bagian selatan merupakan serpihan dari Formasi Kendeng Kidul yang dulu menjadi tepian Samudra Hindia.
Area itu awalnya adalah wilayah lautan dangkal yang kemudian terangkat secara perlahan akibat tekanan geologis.
“Tulungagung itu sinklinal. Jadi gerakan pengangkatan kulit bumi,” tegasnya.
Keterangan itu diperkuat dengan banyaknya temuan fosil biota laut di kawasan perbukitan setempat.
Dwi menyebut masih sering menemukan fosil kerang, siput laut, bintang laut, hingga kuda laut di area tersebut.
Hal itu menjadi bukti bahwa bebatuan marmer yang kini menjadi komoditas unggulan sebenarnya berumur sangat tua dan memiliki riwayat maritim di masa lalu.
Secara struktur, kawasan marmer Tulungagung merupakan bagian dari Subformasi Walikukun, yang membentang dari Besole di Besuki, naik ke Campurdarat, berlanjut ke Boyolangu hingga Gunung Budheg, lalu membelok ke timur menuju Selomangleng dan Candi Dadi.
Koridor geologis inilah yang kini menjadi poros kegiatan penambangan marmer di Tulungagung.
Industri Marmer Campurdarat Tetap Bergeliat

Tidak hanya menyimpan nilai geologis, kawasan ini juga menjadi pusat ekonomi masyarakat.
Di Campurdarat, industri marmer sudah menjadi nadi kehidupan warga. Banyak keluarga menggantungkan mata pencaharian pada usaha pengolahan batu, baik sebagai pengrajin maupun penambang.
Camat Campurdarat, Tri Wantoro, menyebut geliat ekonomi di sektor ini tetap stabil bahkan menunjukkan peningkatan setelah akses Jalur Lintas Selatan (JLS) dibuka.
“Pengrajin ini tetap eksis dengan dibangunnya infrastruktur jalan JLS. Ini untuk pariwisata, kunjungan, mampir beli oleh-oleh,” ujarnya.
Tri menjelaskan bahwa bahan baku marmer tidak seluruhnya berasal dari Tulungagung.
Sebagian didatangkan dari luar daerah untuk menyesuaikan kebutuhan produksi yang jenisnya semakin beragam.
Ia berharap ke depan Campurdarat berkembang menjadi sentra wisata oleh-oleh khas marmer seiring meningkatnya kunjungan wisatawan melalui JLS.
Menipisnya Deposit Jadi Tantangan Baru Kota Marmer
Namun kejayaan Tulungagung sebagai Kota Marmer kini menghadapi tantangan serius.
Penelitian Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) bersama sejumlah pihak menunjukkan bahwa deposit batuan karst dan marmer berkualitas tinggi kian berkurang.
Kabid Perekonomian dan SDA Bappeda Tulungagung, Eko Hadi Prabowo, menegaskan bahwa marmer adalah identitas historis kabupaten ini.
Depositnya sudah lama dimanfaatkan dan kini menjadi sentra olahan, terutama di Besole.
“Pada waktu ditemukan itu kan sudah berkembang sampai saat ini,” katanya.
Namun Eko mengingatkan bahwa marmer merupakan batuan yang lebih tua dibanding karst.
Sementara batuan karst memiliki fungsi penting sebagai penyimpan air tanah. Maka pertambangan yang tidak terkontrol dapat berdampak pada kelestarian lingkungan.
“Itu nanti tentu harus menjadi perhatian penting bagi Pemkab Tulungagung. Perlindungan untuk bebatuan karst,” ungkapnya.
Perajin Mulai Mendatangkan Marmer dari Luar
Eko menyebut kualitas marmer lokal yang tinggi kini semakin menipis seiring intensitas penambangan.
Jumlah pengrajin yang cukup banyak turut mempercepat berkurangnya deposit terbaik di area tersebut.
“Deposit untuk kualitas yang bagus kayaknya semakin menipis,” paparnya.
Untuk terus memenuhi permintaan pasar, warga mulai mendatangkan bahan baku dari luar Tulungagung agar kegiatan industri tetap berjalan.
Meski demikian, Eko menegaskan bahwa identitas Tulungagung sebagai Kota Marmer harus terus dijaga melalui regulasi yang lebih matang serta strategi perlindungan alam yang terukur.
“Jadi kalau Tulungagung ikonnya marmer itu memang betul. Dan itu berusaha kita jaga agar tetap jadi Tulungagung Kota Marmer,” pungkasnya.***












