NETRA WARGA | Trenggalek- Kabupaten Trenggalek menjadi salah satu produsen utama ikan tangkap dan budidaya di Jawa Timur, memiliki potensi besar dalam mendukung program swasembada pangan nasional.
Pada tahun 2023, Dinas Perikanan Kabupaten Trenggalek mencatat produksi ikan mencapai 33.032,06 ton, terdiri dari 28.171,9 ton ikan tangkap dan 4.860,16 ton ikan budidaya.
Sektor perikanan, pertanian, dan kehutanan di daerah ini berkontribusi hingga Rp 5,7 triliun dari total Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Trenggalek sebesar Rp 22 triliun.
Pjs Bupati Trenggalek, Dyah Wahyu Ermawati, menuturkan bahwa Trenggalek siap mendukung program swasembada pangan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
“Kabupaten Trenggalek punya tiga kecamatan yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia, yaitu Kecamatan Watulimo, Kecamatan Panggul, dan Kecamatan Munjungan yang mempunyai potensi perikanan tangkap sangat besar,” ujar Erma, Sabtu (2/11/2024).
Kecamatan Watulimo mencatatkan hasil tertinggi pada 2023 dengan produksi perikanan sebesar 23.777 ton, diikuti oleh Kecamatan Munjungan dan Panggul. Selain itu, potensi perikanan budidaya juga terus meningkat.
“Kecamatan Karangan punya kolam budidaya ikan paling luas dibandingkan kecamatan lain yaitu 66.330 meter persegi, disusul Kecamatan Durenan dengan 40.957 meter persegi,” ungkap Erma.
Diketahui, ikan lele dan ikan patin menjadi komoditi budidaya utama yang dikembangkan oleh masyarakat Trenggalek.
Erma menambahkan bahwa melimpahnya produksi ikan lokal membuatnya optimis Trenggalek dapat menjalankan program makan siang bergizi dan memenuhi kebutuhan pangan dengan hasil lokal.
“Dengan adanya makan siang bergizi dari pemerintah, aset dan sumber daya lokal harus dimanfaatkan sepenuhnya agar nelayan, petani, serta peternak mendapatkan multiplier effect dari program ini,” tegasnya.
Pemkab Trenggalek pun mendorong masyarakat untuk lebih sadar akan potensi perikanan lokal dan meningkatkan konsumsi ikan.
“Konsumsi ikan ini bagus juga dalam mensukseskan program pemerintah pusat yaitu menekan angka stunting anak, karena ikan mengandung protein, zinc, dan omega yang bagus dikonsumsi dalam masa pertumbuhan,” jelas Erma.
Angka prevalensi stunting di Trenggalek telah menunjukkan penurunan signifikan. Pada 2022, prevalensi tercatat 7,9 persen dan turun menjadi 6,6 persen pada 2023, jauh di bawah target nasional dan provinsi.
“Kami optimis dengan dukungan seluruh masyarakat dan upaya optimalisasi potensi perikanan, Kabupaten Trenggalek bisa menjadi daerah percontohan dalam mendukung swasembada pangan dan pengurangan angka stunting,” tutupnya. (Lia)












