Netrawarga.com – Sebanyak tujuh pasien Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjalani perawatan intensif di RSUD dr. Soedomo Trenggalek hingga Selasa (7/1/2025).
Sejak 1 hingga 7 Januari 2025, RSUD mencatat 27 pasien anak-anak yang dirawat akibat DBD, dengan rentang usia mulai dari enam bulan hingga 16 tahun.
“Kondisi pasien DBD saat datang bervariasi. Beberapa pasien masuk pada hari pertama gejala, sementara lainnya di hari ketiga,” jelas Dokter Spesialis Anak RSUD dr. Soedomo, dr. Dana Sumanti.
Saat ini, total ada 15 pasien yang masih dirawat di RSUD, dengan tujuh di antaranya terdiagnosis DBD.
Menurut dr. Dana, kondisi pasien DBD sangat bervariasi, dan fokus perawatan saat ini adalah menunggu kenaikan trombosit pasien.
Hari Kelima: Masa Kritis DBD

Dirinya menyoroti pentingnya perhatian khusus pada hari kelima sejak awal gejala DBD muncul.
“Hari kelima merupakan masa paling mengkhawatirkan. Setelah melewati hari tersebut, pasien DBD biasanya sudah berada di luar masa darurat,” ungkapnya.
Sebaran kasus DBD di Trenggalek cukup merata, dengan wilayah Kelurahan Ngantru di Kecamatan Trenggalek mencatat kasus tertinggi.
Kecamatan Gandusari dan Kecamatan Dongko juga menjadi daerah terdampak DBD lainnya.
Lonjakan DBD Tertinggi di Awal Desember 2024

Data Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB) Trenggalek menunjukkan bahwa lonjakan kasus tertinggi terjadi pada awal Desember 2024.
Pada periode tersebut, tercatat 948 kasus DBD, jauh meningkat dibandingkan 129 kasus pada periode yang sama tahun 2023.
Kepala Dinkes PPKB Trenggalek, dr. Sunarto, menjelaskan bahwa fenomena ini dipengaruhi oleh siklus lima tahunan DBD, yang diperburuk oleh rendahnya efektivitas pemberantasan sarang nyamuk (PSN).
“Selain faktor siklus, rendahnya efektivitas PSN turut menyumbang tingginya angka kasus,” ujarnya.
Kelompok Usia Paling Terdampak DBD

Berdasarkan data Dinkes, kelompok usia 15–44 tahun mencatat angka tertinggi, yakni 49,05 persen dari total kasus.
Sementara itu, kelompok usia 5–14 tahun menyumbang 29,64 persen kasus, dan bayi di bawah satu tahun hanya 1,48 persen.
Meski tren kasus mulai menurun, masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap ancaman DBD.
Peningkatan kebersihan lingkungan dan pelaksanaan PSN secara konsisten menjadi langkah penting untuk menekan angka kasus.***







