Waspada Ancaman Mikroplastik dalam Makanan Bayi

Waspada Ancaman Mikroplastik dalam Makanan Bayi
Waspada Ancaman Mikroplastik dalam Makanan Bayi

Netrawarga.com – Dalam keseharian, tanpa sadar kita bersinggungan dengan ancaman yang nyaris tak terlihat, yakni mikroplastik.

Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB) Trenggalek kini menyoroti dampak mikroplastik yang bisa mencemari makanan bayi melalui penggunaan wadah plastik.

Kepala Dinkes PPKB Trenggalek, dr. Sunarto, mengingatkan bahaya tersembunyi dari bahan plastik, terutama jika terpapar panas.

Zat beracun seperti Bisphenol-A (BPA), ftalat, dan dioksin dapat terurai, masuk ke tubuh, dan menimbulkan berbagai masalah kesehatan serius.

“Mikroplastik bisa terendap di saluran pencernaan, pernapasan, hingga organ tubuh lainnya. Dampaknya, mulai dari iritasi, peradangan, hingga risiko kanker dalam jangka panjang,” tegasnya.

Meskipun belum ada laporan resmi di Trenggalek, ancaman ini tetap nyata. Langkah sederhana seperti menghindari penggunaan plastik saat memanaskan makanan bayi bisa menjadi solusi awal.

“Susu sebaiknya diseduh dalam wadah kaca dengan air panas, lalu dipindahkan ke botol plastik setelah dingin. Langkah ini efektif mengurangi risiko,” ujar Sunarto.

Ia menambahkan, penggunaan wadah non-plastik seperti kaca atau logam harus menjadi prioritas, terutama untuk kebutuhan bayi dan anak-anak.

Jika terpaksa menggunakan plastik, pastikan makanan atau minuman dimasukkan dalam kondisi dingin.

Namun, bahaya mikroplastik tidak hanya berhenti di meja makan. Limbah plastik yang mencemari air dan lingkungan juga menjadi perhatian serius.

Dr. Sunarto menekankan pentingnya kolaborasi lintas instansi untuk mengendalikan sampah plastik, yang ujungnya turut memengaruhi kesehatan generasi mendatang.

“Ini bukan sekadar soal mikroplastik, tapi bagaimana kita menjaga lingkungan untuk masa depan,” tuturnya.

Di balik ancaman ini, edukasi menjadi senjata paling ampuh. Dengan langkah sederhana yang berbasis kesadaran, setiap keluarga bisa melindungi anak-anak dari risiko yang sebenarnya dapat dicegah.

“Mikroplastik mungkin tak terlihat, tapi dampaknya nyata. Kini saatnya kita bertindak,” tutup dr. Sunarto.***