Fakta Menarik tentang Tradisi Ronda Sahur dengan Petasan Sebelum Abad ke 19

Fakta Menarik tentang Tradisi Ronda Sahur
Fakta Menarik tentang Tradisi Ronda Sahur

Netrawarga.com – Saat bulan Ramadhan tiba, masyarakat Indonesia memiliki tradisi unik untuk membangunkan orang sahur (ronda sahur).

Biasanya, anak-anak, remaja, hingga orang dewasa berkeliling kampung sambil menabuh beduk, kentongan, atau bahkan galon air, sembari berteriak, “Sahur! Sahur!”

Tradisi ronda sahur bukan sekadar kebiasaan turun-temurun, melainkan memiliki akar sejarah panjang yang telah berkembang sejak zaman Rasulullah.

Berikut asal-usul dan perkembangannya dari masa ke masa.

Berawal dari Zaman Rasulullah

Di masa Nabi Muhammad SAW, belum ada pengeras suara untuk mengingatkan umat Islam tentang waktu sahur.

Oleh karena itu, cara yang digunakan adalah dengan mengumandangkan azan.

Bilal bin Rabah ditugaskan Rasulullah untuk menyerukan sahur, meskipun azan ini bukan untuk salat, melainkan sebagai pengingat waktu makan sebelum Subuh.

Sedangkan untuk menandai berakhirnya waktu sahur, Abdullah bin Ummi Maktum mengumandangkan azan sebagai tanda masuknya waktu Subuh.

Perkembangan Tradisi Ronda Sahur

Masa Setelah Rasulullah: Tradisi Berkeliling Bangsa Arab

Di wilayah sekitar Mekkah, kelompok masyarakat mulai terbentuk dengan tugas khusus membangunkan warga untuk sahur.

Mereka membawa lentera dan menabuh gendang sambil berkeliling kota, meneriakkan waktu sahur telah tiba.

Adaptasi di Indonesia: Beduk Sahur Sejak Ratusan Tahun Lalu

Di Indonesia, tradisi ronda sahur berkembang dengan cara yang berbeda di berbagai daerah.

Masyarakat Betawi sudah melakukan “Ngarak Beduk”, yaitu menabuh beduk sebagai tanda sahur.

Tradisi ini muncul karena Jakarta saat itu masih berupa hutan dan rawa-rawa, sehingga suara manusia sulit menjangkau jarak jauh.

Pengaruh Budaya China: Petasan Gantikan Beduk

Pada masa lalu, budaya Betawi dan China memiliki hubungan erat.

Seiring berjalannya waktu, masyarakat mulai menggantikan beduk dengan petasan yang dianggap lebih efektif karena suaranya keras dan mengejutkan.

Abad ke-19: Petasan Digantikan Alat Musik Tradisional

Sekitar abad ke-19, penggunaan petasan mulai ditinggalkan dan masyarakat kembali menggunakan alat musik tradisional seperti beduk, gendang, dan rebana.

Bahkan, beberapa daerah mulai menyertai dengan lagu-lagu khas Betawi untuk menghibur warga yang terbangun.

Ragam Tradisi Sahur di Berbagai Daerah

Setiap daerah di Indonesia memiliki tradisi sahurnya masing-masing, yang dipengaruhi oleh budaya setempat:

  • Dengo-dengo (Sulawesi)
  • Ubrug-ubrug (Jawa Barat)
  • Patrol Canmacanan (Situbondo)
  • Klotekan (Yogyakarta)
  • Buroq (Brebes)

Tradisi ini menambah kemeriahan bulan Ramadhan dan menjadi bagian dari kekayaan budaya Nusantara.

Penurunan Tradisi Ronda Sahur

Seiring waktu, tradisi membangunkan sahur mulai berkurang.

Sebagian masyarakat menganggapnya mengganggu ketertiban umum, terutama di kawasan perkotaan.

Bahkan, Pasal 503 angka 1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) melarang kegaduhan di malam hari, dengan ancaman kurungan paling lama tiga hari atau denda hingga Rp225 ribu.

Meskipun demikian, tradisi membangunkan sahur masih tetap hidup di beberapa daerah, meski dalam bentuk yang lebih terkendali agar tidak mengganggu kenyamanan warga.***