DBHCHT Kabupaten Blitar Dorong Pengembangan Pertanian

Cabai Rawit Jadi Fokus Pengendalian Inflasi di Kabupaten Blitar
Cabai Rawit Jadi Fokus Pengendalian Inflasi di Kabupaten Blitar

NETRA WARGA | BLITAR – Pemanfaatan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) Kabupaten Blitar tahun ini difokuskan untuk memperkuat sektor pertanian, terutama komoditas yang berpengaruh terhadap pasokan pangan dan inflasi.

Program pengembangan cabai rawit menjadi salah satu prioritas karena komoditas pertanian tersebut kerap memicu kenaikan harga.

Selain itu, dukungan juga diberikan kepada petani tembakau melalui penyediaan alat dan pelatihan.

Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Blitar memastikan alokasi DBHCHT digunakan sesuai kebutuhan daerah.

Pemanfaatan DBHCHT Kabupaten Blitar diarahkan ke pembinaan lingkungan sosial, termasuk penguatan budidaya cabai dan sarana pertanian bagi petani tembakau.

Kedua sektor tersebut dinilai berperan penting dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah.

Kepala Bidang Sarana Tanaman Pangan dan Hortikultura DKPP Kabupaten Blitar, Siswoyo Adi Prasetyo, menjelaskan bahwa dukungan dari DBHCHT Kabupaten Blitar digunakan untuk pengembangan cabai rawit.

Bantuan ini menyasar kelompok tani penerima di empat kecamatan yang berpotensi meningkatkan produksi pangan strategis.

Pengembangan Cabai Rawit Jadi Pengendali Inflasi

Siswoyo mengatakan bahwa anggaran DBHCHT dialokasikan pada bidang yang ia pimpin, yaitu Sarana Tanaman Pangan dan Hortikultura.

Fokus utamanya adalah pengembangan cabai rawit melalui program pembinaan kelompok tani di empat kecamatan.

“Anggaran itu kami gunakan untuk pengembangan cabai rawit. Sasarannya kelompok tani penerima, dengan lokasi berada di empat kecamatan,” ujar Siswoyo saat ditemui di kantornya, Selasa (25/11).

Empat kecamatan tersebut meliputi Doko, Garum, Nglegok, dan Srengat. Para petani cabai menerima bibit, mulsa, pupuk kandang, serta pupuk NPK.

Program ini diarahkan untuk mendorong pola tanam off season, khususnya pada musim penghujan.

Siswoyo menjelaskan bahwa saat musim hujan tiba, petani di wilayah utara Blitar biasanya memilih menanam padi.

Pola tersebut menyebabkan pasokan cabai berkurang di pasar, padahal cabai merupakan salah satu komoditas penyumbang inflasi terbesar.

“Karena itu, kami perlu mengembangkan tanam cabai off season. Komoditas cabai ini kan penyumbang inflasi, jadi kita dorong agar produksinya tetap aman supaya harga bisa dikendalikan,” terangnya.

Dukung Petani Tembakau Lewat Bantuan Alsintan

Dukung Petani Tembakau Lewat Bantuan Alsintan

Selain cabai, pemanfaatan DBHCHT Kabupaten Blitar juga diarahkan untuk memperkuat petani tembakau. Siswoyo, yang juga menjabat sebagai Plt. Kepala Bidang Sarana Perkebunan, menyebut bahwa DKPP menyiapkan bantuan sarana produksi untuk kelompok tani tembakau.

Bantuan tersebut berupa hand traktor, kultivator, hingga alat pascapanen seperti mesin perajang tembakau.

Seluruh peralatan akan disalurkan kepada kelompok tani tembakau di beberapa wilayah Kabupaten Blitar.

DKPP juga memfasilitasi bimbingan teknis bagi para petani tembakau, terutama mereka yang menjalin kemitraan dengan PT Djarum.

Kemitraan ini difokuskan di wilayah Blitar Selatan dan kini memasuki tahap uji coba.

“Sekarang sedang uji coba kemitraan dengan PT Djarum seluas 13 hektare. Hasil panennya sudah dibeli PT Djarum dan lolos uji laboratorium untuk kadar nikotin dan gula. Tahun depan targetnya dikembangkan menjadi 50 hektare,” jelasnya.

Menguatkan Ketahanan Ekonomi Petani di Kabupaten Blitar

DKPP berharap pemanfaatan DBHCHT tidak hanya memberikan bantuan fisik, tetapi juga memacu peningkatan kompetensi petani.

Dukungan melalui sarana, pelatihan, serta kemitraan diharapkan mampu meningkatkan produktivitas dan memperkuat ketahanan ekonomi bagi petani cabai maupun tembakau.

Program berbasis DBHCHT Kabupaten Blitar ini juga menjadi bagian dari strategi menjaga stabilitas pasokan pangan, menekan inflasi daerah, serta memastikan petani tembakau mendapat dukungan berkelanjutan dari pemerintah.***