Kasus Bullying di Sekolah Meningkat Tajam, 573 Laporan Tercatat pada 2024

Kasus Bullying di Sekolah Meningkat Tajam, 573 Laporan Tercatat pada 2024
Kasus Bullying di Sekolah Meningkat Tajam, 573 Laporan Tercatat pada 2024

NETRA WARGAKasus bullying di sekolah di Indonesia menunjukkan tren peningkatan yang mengkhawatirkan.

Data Pusat Data dan Teknologi Informasi Pendidikan Indonesia mencatat, sepanjang 2024 terdapat 573 laporan kasus bullying, melonjak hampir dua kali lipat dibanding tahun 2023 yang berjumlah 285 kasus.

Angka ini terus meningkat sejak 2020, ketika kasus tercatat hanya 91 laporan.

Sebagian besar atau 80 persen kasus terjadi di sekolah yang berada di bawah naungan Kementerian Pendidikan, sedangkan 20 persen lainnya di sekolah di bawah Kementerian Agama.

Dari sisi wilayah, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jawa Timur menjadi daerah dengan angka bullying tertinggi.

Jenis perundungan yang paling dominan adalah bullying fisik, yang mencapai 55,5 persen.

Disusul bullying verbal sebesar 29,3 persen dan bullying psikologis 15,2 persen.

Jika ditinjau dari jenjang pendidikan, tingkat SMP menempati posisi tertinggi dengan 26 persen kasus, disusul SD sebesar 25 persen, dan SMA sebanyak 18,75 persen.

Dari sisi gender, pelaku maupun korban laki-laki mendominasi di semua jenjang: SD 31,6 persen, SMP 32,22 persen, dan SMA 19,68 persen.

Angka ini jauh lebih tinggi dibanding perempuan yang masing-masing tercatat 21,64 persen (SD), 19,97 persen (SMP), dan 11,26 persen (SMA).

Lonjakan kasus ini menjadi peringatan keras bagi dunia pendidikan.

Para pemerhati menilai perlunya langkah konkret untuk menekan angka bullying di sekolah.

Di antaranya dengan memperkuat regulasi, meningkatkan pengawasan, menambah jumlah konselor, serta memperbesar peran orang tua dalam mendampingi anak.

Tanpa upaya yang sistematis, kasus bullying berpotensi merusak masa depan generasi muda Indonesia. (Lia)