Madilog Tan Malaka dalam Meninjau Agama Nasrani dan Yahudi

Madilog Tan Malaka dalam Meninjau Agama Nasrani dan Yahudi
Madilog Tan Malaka dalam Meninjau Agama Nasrani dan Yahudi

Membaca Ulang Madilog Tan Malaka

Karya besar Tan Malaka berjudul Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika) bukan hanya membahas filsafat dan ilmu pengetahuan, tetapi juga menyinggung agama-agama besar.

Salah satu bagian pentingnya adalah analisis tentang Nasrani (Kristen) dan Yahudi, yang ditinjau melalui perspektif materialisme dialektis.

Bagi Tan Malaka, agama tidak bisa dilepaskan dari sejarah sosial, politik, dan ekonomi masyarakat yang melahirkannya.

Pandangan ini membuat uraian tentang Yesus, Nasrani, dan Yahudi dalam Madilog terasa berbeda dibanding bacaan teologis atau dogmatis.

Nasrani dan Yesus dari Nazaret

Tan Malaka memulai dengan mengutip ungkapan Latin: Jesus Nazarenus Rex Jodiorum — Yesus dari Nazaret, Raja orang Yahudi.

Menurutnya, memahami agama Nasrani berarti memahami pula hubungan Yesus dengan masyarakat Yahudi kala itu.

Dalam tradisi Kristen Ortodoks, semua kisah dalam Injil diterima secara harfiah: Yesus dianggap anak Tuhan, mampu menyembuhkan penyakit, menghidupkan orang mati, berjalan di atas air, hingga bangkit setelah disalib.

Tan Malaka mencatat bahwa pandangan semacam ini dinilai menolak semua penafsiran logis dan dialektis.

Namun, di Barat kemudian muncul arus yang menentang, salah satunya filsuf Friedrich Nietzsche yang menyebut Yesus sebagai simbol kelemahan manusia.

Kaum Nazi bahkan memandang agama Kristen sebagai produk Judentum (Yahudi).

Di sinilah Tan Malaka menunjukkan dinamika dialektis: agama yang lahir sebagai gerakan revolusioner rakyat miskin, lambat laun berubah menjadi alat politik kelas berkuasa.

Dari Revolusioner ke Institusi

Pemikir Sosialis Jerman, Karl Kautsky

Tan Malaka banyak mengutip pemikir sosialis Jerman, Karl Kautsky, melalui bukunya Foundations of Christianity.

Menurut Kautsky, Yesus Kristus sejatinya seorang revolusioner dari Galilea, daerah yang dikenal sarang pemberontak.

Pengikut awal Yesus adalah rakyat miskin kota dan desa, yang hidup dengan pola komunal, tanpa hak milik pribadi—sebuah “komunisme sederhana”.

Namun, ketika orang kaya mulai masuk ke kelompok Kristen, semangat revolusioner itu berubah menjadi kompromistis.

Puncaknya terjadi pada masa Kaisar Konstantin (313 M), ketika Kristen dijadikan agama resmi kekaisaran Romawi.

Sejak itu, menurut Kautsky, hilanglah roh revolusioner Yesus. Agama Kristen menjadi institusi resmi, bersekutu dengan kekuasaan.

Yahudi: Dari Musa hingga Pembuangan Babilonia

Dalam Madilog, Tan Malaka juga membahas panjang lebar agama Yahudi. Menurutnya, kepercayaan Yahudi pada Tuhan yang esa (Yahweh) lahir dari kebutuhan historis: menyatukan suku-suku Israel yang tercerai-berai.

Kisah Nabi Musa yang memimpin Bani Israel keluar dari Mesir dianggap sebagai momen penting lahirnya monoteisme Yahudi.

Tuhan yang esa dipakai sebagai dasar persatuan oleh Nabi Musa dalam menghadapi penindasan yang dilakukan Fir’aun.

Kemudian, di bawah kepemimpinan Raja Daud dan Raja Salomo, bangsa Yahudi mencapai puncak kejayaan.

Namun, setelah kerajaan pecah, mereka mengalami kekalahan dan pembuangan ke Babilonia.

Dari pengalaman ini, keimanan Yahudi justru makin menguat, meski kemudian bercampur dengan pengaruh filsafat Yunani.

Perspektif Dialektika Materialis

Bagi Tan Malaka, perjalanan agama Nasrani dan Yahudi memperlihatkan hukum dialektika:

  1. Lahir dari kondisi sosial tertentu (penindasan dan harapan rakyat).
  2. Mengalami perkembangan sesuai perubahan ekonomi, politik, dan kelas sosial.
  3. Berubah fungsi: dari gerakan rakyat tertindas menjadi ideologi resmi kekuasaan.

Yesus dipandang bukan sekadar tokoh spiritual, melainkan pemimpin rakyat miskin yang melawan dominasi Rabbi Yahudi dan kekuasaan Romawi.

Namun karena belum adanya basis material berupa industri modern, gerakannya tak mungkin melahirkan revolusi sosial seperti di era Lenin.

Relevansi Pemikiran Tan Malaka

Membaca ulang bagian Madilog tentang Nasrani dan Yahudi, kita menemukan keberanian Tan Malaka menafsirkan agama dengan pendekatan historis-materialis.

Ia tidak menafikan nilai moral atau spiritual agama, tetapi menempatkannya dalam konteks perjuangan kelas dan perubahan sosial.

Pesan penting yang bisa ditarik hari ini:

  • Agama kerap lahir sebagai suara rakyat tertindas.
  • Namun, seiring waktu bisa berubah menjadi alat kekuasaan.
  • Kritik historis perlu dilakukan agar agama kembali menjadi kekuatan emansipatoris.

Penutup

Madilog bukanlah kitab suci, melainkan karya filsafat revolusioner. Bagian tentang Nasrani dan Yahudi memperlihatkan kejeniusan Tan Malaka dalam membaca agama dari kacamata materialisme dialektis.

Ia menempatkan Yesus bukan sebagai sosok supranatural, melainkan pemimpin rakyat miskin yang teguh memegang prinsip sampai akhir hayatnya.

Begitu pula Yahudi, dipahami sebagai bangsa yang membangun monoteisme dari pengalaman sejarah kolektif mereka.

Dengan membaca ulang Tan Malaka, kita bisa lebih kritis melihat hubungan agama, kekuasaan, dan rakyat. Dan di sanalah relevansi Madilog tetap hidup hingga hari ini.