Budaya  

Santet Indonesia Diakui UNESCO

Ilustrasi Santet Indonesia yang sudah diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya tak benda.

Netrawarga.com – Santet merupakan tradisi yang telah lama dikenal masyarakat Indonesia, terutama di pulau Jawa dan beberapa daerah lainnya.

Santet sering dikaitkan dengan ilmu hitam untuk mencelakai seseorang melalui media seperti rambut, kuku, foto, boneka, hingga keris.

Sebagian masyarakat menganggap santet tabu karena dampaknya yang meresahkan, sementara yang lain melihatnya sebagai bagian dari kekayaan budaya.

Dikutip dari majalahsunday.com, UNESCO bahkan telah mengakui santet sebagai salah satu warisan budaya tak benda Indonesia, meski praktiknya dilarang secara hukum melalui Pasal 252 KUHP.

Santet erat hubungannya dengan perdukunan, di mana dukun menjadi pelaku utama yang melakukan ritual tersebut.

Dalam sejarah, praktik santet pernah memicu tragedi pembantaian dukun di Banyuwangi pada tahun 1998, di mana ratusan dukun tewas akibat kecurigaan masyarakat terhadap mereka.

Media santet yang beragam, seperti potongan rambut atau kuku, juga menciptakan kebiasaan unik di masyarakat Jawa, seperti membuangnya ke sungai agar tidak disalahgunakan.

Korban santet sering mengalami penyakit misterius seperti muntah darah, sakit berkepanjangan, atau bahkan meninggal secara tiba-tiba, sehingga praktik ini dianggap sebagai kejahatan.

Meskipun santet dianggap negatif, beberapa wilayah di Indonesia masih mempertahankan tradisi ini sebagai bagian dari budaya lokal.

Kalimantan, misalnya, dikenal dengan kemampuan spiritual Suku Dayak yang dianggap memiliki kekuatan gaib.

Banyuwangi di Jawa Timur juga menjadi pusat praktik mistis yang masih bertahan, seperti yang digambarkan dalam film Desa Penari.

Papua dan Suku Baduy di Banten juga memiliki tradisi perdukunan yang erat kaitannya dengan praktik spiritual.

Pengakuan UNESCO terhadap santet sebagai kekayaan budaya menempatkannya dalam posisi yang unik.

Tradisi ini mencerminkan sejarah dan identitas lokal, meski masyarakat modern diimbau untuk menjauhkan diri dari praktik yang berpotensi merugikan.

Santet kini menjadi bagian menarik dari budaya Indonesia, yang sekaligus mengingatkan kita pada pentingnya melestarikan tradisi tanpa meninggalkan nilai-nilai kemanusiaan.***