Pasar Ekspor Durian dan Cengkeh di Trenggalek Serupa Tapi Tak Sama

Produksi Durian Trenggalek Melonjak, Cengkeh Lebih Dulu Dilirik Pasar Ekspor
Produksi Durian Trenggalek Melonjak, Cengkeh Lebih Dulu Dilirik Pasar Ekspor

NETRA WARGA – Selain dikenal sebagai kota gaplek, Trenggalek juga dikenal dengan durian dan cengkeh yang menjadi komoditas unggulan.

Produksi durian di Kabupaten Trenggalek mengalami peningkatan signifikan dalam dua tahun terakhir.

Data Produksi Durian dan Cengkeh

Data BPS mencatat, tahun 2023 produksi mencapai 40.983,22 kuintal, lalu naik lebih dari dua kali lipat menjadi 88.175,99 kuintal pada 2024.

Di sisi lain, durian hasil hutan nonkayu juga memberi kontribusi penting. Tahun lalu, durian tercatat menyumbang 5,02 ton.

Sementara, tahun lalu cengkeh mencapai 44,12 ton dengan sebaran di Kecamatan Panggul, Munjungan, Watulimo, dan Bendungan.

Potret Pasar Ekspor Durian dan Cengkeh

Durian Khas Trenggalek Hingga Festival dan Desa Wisata Durensari

Walaupun keduanya dikenal sebagai komoditas unggulan, nasib keduanya di pasar ekspor masih berbeda.

Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Perdagangan (Diskomidag) Trenggalek, Saniran, mengungkapkan hingga kini durian dan cengkeh belum menembus pasar luar negeri.

“Cengkeh dan durian sampai sekarang belum ada ekspor,” ujar Saniran, Selasa (5/8/2025).

Saniran menambahkan bahwa peluang ekspor cengkeh mulai terbuka, meski harus ditindaklanjuti dengan prinsip kehati-hatian.

“Sempat ada orang Singapura yang hendak mencari cengkeh, namun kita tidak boleh sembrono,” ungkapnya.

Lebih lanjut, dirinya menyampaikan bahwa harus ada penelusuran lebih lanjut terkait sepak terjang peminat cengkeh.

“Karena harus dilihat bagaimana track record dan curriculum vitae-nya, jangan sampai tertipu,” jelasnya.

Cengkeh Tempuh Jalur Lain

Cengkeh dinilai memiliki posisi lebih baik karena menjadi salah satu bahan utama minyak atsiri.

Hal ini karena minyak atsiri komoditas yang menyumbang devisa besar bagi Trenggalek.

Dari total nilai ekspor Rp139,8 miliar, minyak atsiri tercatat memberi kontribusi Rp24,9 miliar.

Pada 2023, minyak atsiri asal Trenggalek bahkan menyumbang Rp54,72 miliar, lebih dari setengah total ekspor nonmigas daerah yang mencapai Rp102,1 miliar.

Adapun harga minyak atsiri bervariasi. Minyak daun sirih mencapai Rp2,5 juta hingga Rp3 juta per kilogram, nilam sekitar Rp750 ribu, daun jeruk purut Rp650 ribu, dan cengkeh sekitar Rp240 ribu.

Sentra produksi terbesar berada di Watulimo, disusul Dongko, Kampak, dan Munjungan.

Kini, minyak atsiri Trenggalek telah menembus pasar Asia dan Eropa.

Sementara itu, durian yang produksinya terus melimpah masih menunggu peluang agar bisa merambah pasar ekspor. (Lia)