Bupati Trenggalek Luncurkan Program Sangu Sampah

Bupati Trenggalek Luncurkan Program Sangu Sampah
Bupati Trenggalek Luncurkan Program Sangu Sampah

NETRA WARGA | TRENGGALEK – Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin meluncurkan program “Sangu Sampah” dalam kegiatan sosialisasi Perda RPJMD Kabupaten Trenggalek Tahun 2025–2029.

Program Sangu Sampah berbasis aplikasi yang menyasar para siswa di seluruh jenjang pendidikan agar menabung sampah yang nantinya dapat dikonversi menjadi uang saku dalam kurun waktu sekitar tiga bulan.

Mas Ipin, sapaan akrab Bupati Trenggalek, menjelaskan bahwa program Sangu Sampah dirancang untuk mengurangi beban orang tua sekaligus menanamkan kebiasaan memilah sampah sejak dini.

Melalui siswa, diharapkan kebiasaan tersebut menular ke lingkungan keluarga sehingga persoalan sampah rumah tangga dapat diurai secara bertahap dan berkontribusi terhadap target Net Zero Carbon.

Memilah Sampah Bukan Pekerja Memalukan

Menurut Mas Ipin, memilah sampah bukanlah pekerjaan yang memalukan. Ia bahkan mencontohkan pengalaman pribadinya yang pernah mengumpulkan sampah aluminium untuk diolah dan dijual.

“Salah satunya ini saya, produk sukses dari kegiatan memilah sampah. Saya bisa menjadi bupati, hasil dari mengumpulkan sampah. Sampah aluminium saya kumpulkan kemudian saya olah menjadi panci dan kemudian saya jual,” ujarnya saat menyemangati para siswa di Balai Desa Malasan, Kecamatan Durenan, Kamis (18/12/2025).

Ia menegaskan, sampah justru memiliki nilai ekonomi apabila dipilah dengan benar. Sebaliknya, sampah akan menjadi tidak bernilai ketika tercampur.

Melalui program Sangu Sampah, anak-anak diharapkan menjadi agen perubahan di rumah masing-masing agar keluarga terbiasa memilah sampah sebelum dibuang.

Selain berdampak pada lingkungan, kegiatan tersebut juga memberikan nilai tambah ekonomi bagi keluarga.

Mas Ipin menjelaskan, berdasarkan perhitungan emisi di Trenggalek, sektor energi menyumbang sekitar 42 persen, sektor pertanian 40 persen, sektor sampah 16 persen, dan sisanya berasal dari sektor industri dan lainnya.

Saat ini Trenggalek masih surplus emisi sekitar 150 ribu ton CO2 ekuivalen. Angka tersebut setara dengan penanaman 130 hektare mangrove atau pengelolaan sekitar 80 persen sampah yang dihasilkan.

Dengan keterbatasan fiskal dan mahalnya teknologi pengolahan sampah, pemerintah daerah memilih pendekatan yang paling memungkinkan, yakni menjadikan sampah sebagai sumber ekonomi. “Yang paling gampang di bawah kendali kita adalah sampah,” tegasnya.

Program Sangu Sampah juga dirancang sebagai sarana pembentukan karakter siswa, peningkatan literasi digital melalui penggunaan aplikasi, serta inklusi keuangan karena hasil pengelolaan sampah dikembalikan kepada siswa dalam bentuk uang saku. “Jadi itu ceritanya sangu sampah hadir,” kata Mas Ipin.

Wacana Merambah Ke Masyarakat Umum

Ke depan, program ini akan diperluas ke masyarakat umum, khususnya untuk pengelolaan sampah bernilai ekonomi rendah namun berdampak besar, seperti sampah organik.

Limbah organik rumah tangga dan limbah MBG direncanakan diolah menjadi pupuk dan media tanam untuk pekarangan, yang hasilnya dapat dimanfaatkan maupun dijual.

Program Sangu Sampah diterapkan di seluruh jenjang pendidikan, dengan skema penggunaan aplikasi yang disesuaikan.

Untuk siswa SMA dan perguruan tinggi, setiap peserta memiliki satu akun dan satu rekening. Sementara untuk SD dan pondok pesantren, akun dikelola oleh guru, wali murid, atau pengurus pondok.

Jenis sampah yang dikelola dalam program ini meliputi delapan kategori, yakni kemasan plastik minuman, plastik sachet, kaca, kain, logam, elektronik, serta minyak jelantah.

Sampah yang terkumpul di sekolah akan disalurkan melalui jaringan TPS 3R, bank sampah, dan mitra pengelola untuk diproses lebih lanjut hingga ke tahap daur ulang.***