NETRA WARGA – Kesenjangan ekonomi ternyata bukan hanya masalah manusia.
Kalau kita mau membayangkan, di dunia gaib pun kemungkinan ada jurang perbedaan antara hantu lokal Indonesia dengan hantu luar negeri.
Perbedaan ini bukan cuma soal penampilan dan gaya menakut-nakuti, tapi juga soal “fasilitas” dan “status sosial” yang mereka nikmati.
Mari kita ambil contoh tiga tokoh besar dunia mistis: Kuntilanak dari Indonesia, Dracula dari Eropa, dan Vampir China alias jiangshi.
Jika dibandingkan, jelas terlihat ada “ketimpangan ekonomi” yang cukup jauh — kalau diibaratkan, Dracula hidup di level “kelas atas internasional”, sementara kuntilanak masih harus berjuang di “lapangan rakyat”.
Hunian dan Properti
Kuntilanak biasanya tinggal di tempat seadanya. Rumahnya bisa berupa pohon beringin tua, rumah kosong yang terbengkalai, atau pojok kuburan.
Tidak ada perabot mewah, tidak ada listrik, apalagi wifi.
Fasilitasnya minim, bahkan untuk sekadar berteduh dari hujan kadang bergantung pada kondisi atap rumah angker.
Bandingkan dengan Dracula. Ia punya kastil megah di atas bukit, lengkap dengan menara tinggi, pintu gerbang besi, dan ruang bawah tanah eksklusif.
Tidak heran kalau Dracula jarang kelihatan “nyari job” di siang hari — tempat tinggalnya saja sudah seperti hotel bintang lima khusus hantu bangsawan.
Vampir China sedikit berbeda. Hunian mereka biasanya kuil tua atau rumah besar bergaya Tiongkok klasik.
Meski tidak semewah kastil Dracula, setidaknya mereka punya atap keramik rapi, pintu kayu ukir, dan halaman yang luas.
Di dunia gaib, ini sudah masuk kategori “kelas menengah”.
Fashion dan Penampilan
Kuntilanak setia dengan pakaian putih panjang yang sudah menjadi seragam wajib.
Walau ikonik, busana ini tidak pernah berubah selama ratusan tahun.
Rambut panjang terurai jadi ciri khas, tapi tanpa perawatan salon — ya, maklum, anggaran perawatan minim.
Dracula, di sisi lain, selalu tampil necis dengan jas hitam, rompi merah, dan mantel panjang.
Sepatunya mengkilap, gaya rambut klimis, dan kadang pakai kalung medali besar.
Ini seperti perbedaan antara pekerja lepas di desa dengan CEO perusahaan multinasional.
Vampir China punya seragam khas: jubah pejabat kuno lengkap dengan topi resmi.
Warna biru atau hitam dominan, dan meski cara jalannya melompat-lompat, penampilannya tetap terjaga.
Minimal, ada usaha untuk tampil formal di depan “korban”.
Sumber Pendapatan
Kalau bicara penghasilan, kuntilanak seperti bekerja di sektor informal.
Jobnya lebih banyak di malam hari: menakut-nakuti pengendara motor, muncul di pinggir jalan, atau bergentayangan di pohon. Tidak ada kontrak kerja pasti, apalagi bayaran rutin.
Dracula berbeda. Ia seperti punya “bisnis keluarga” yang diwariskan turun-temurun: mengelola wilayah, memimpin pasukan kelelawar, dan sesekali menghadiri pesta bangsawan gaib.
Pendapatannya stabil, bahkan mungkin ada investasi di “pasar malam gaib Eropa”.
Vampir China punya pola kerja unik: mereka dipekerjakan oleh dukun atau pengurus mayat untuk mengantarkan jenazah kembali ke kampung halaman.
Ini seperti jasa ekspedisi di dunia mistis. Jadi ada sistem kerja jelas, dengan “bayaran” berupa energi kehidupan dari korban.
Fasilitas dan Akses
Kuntilanak seringkali tidak punya akses transportasi mewah.
Pindah tempat harus terbang sendiri atau berpindah lewat “teleportasi angin malam”.
Bandingkan dengan Dracula yang punya kereta kuda pribadi atau bisa berubah jadi kelelawar untuk bepergian jauh.
Vampir China memang lompat-lompat saat bergerak, tapi biasanya didampingi rombongan.
Kalau lelah, mereka dibawa dalam peti. Ada semacam “asuransi perjalanan” yang tidak dimiliki hantu lokal.
Status Sosial Hantu di Dunia Gaib
Di dunia hantu internasional, Dracula adalah tokoh elit.
Ia dihormati, bahkan manusia yang tahu namanya akan menganggapnya legenda.
Vampir China punya status cukup terhormat di komunitas mereka, dianggap simbol budaya dan bagian dari cerita rakyat klasik.
Sementara itu, kuntilanak kadang masih dipandang sebelah mata, bahkan oleh sesama hantu.
Ia identik dengan daerah tertentu, dianggap “hantu kampung” yang hanya eksis di wilayah Asia Tenggara.
Padahal, potensi ekspor budaya mistisnya besar kalau ada promosi yang tepat.
Penutup
Jika dunia hantu punya indeks kesenjangan ekonomi, kemungkinan nilainya akan tinggi.
Dracula hidup di “gaib metropolis” dengan segala kemewahan, Vampir China di “kota madya gaib”, sementara kuntilanak bertahan di “desa gaib” dengan fasilitas terbatas.
Namun, satu hal yang tidak bisa dibeli dengan uang adalah popularitas di hati rakyat.
Kuntilanak mungkin kalah dalam hal properti dan busana, tapi ia menang telak soal kedekatan dengan masyarakat Indonesia.
Ia hadir di cerita-cerita rakyat, jadi bahan film horor, bahkan masuk ke meme-meme lucu di media sosial.
Jadi, meski kesenjangan ekonomi hantu itu nyata dalam imajinasi kita, setiap hantu punya cara sendiri untuk bertahan dan tetap relevan.
Dan mungkin, di dunia gaib sana, mereka juga sedang membicarakan topik ini… sambil ngopi bareng. (Lia)




