NETRA WARGA – Kepercayaan investor menanamkan modal (investasi) di Kabupaten Trenggalek tetap terjaga.
Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) mencatat realisasi investasi semester pertama 2025 mencapai Rp 227 miliar.
Kepala DPMPTSP Trenggalek, Edi Santoso, menyebut sektor perdagangan masih menjadi penyumbang terbesar dengan nilai lebih dari Rp 90 miliar.
Posisi berikutnya ditempati sektor pariwisata senilai Rp 31 miliar dan industri sebesar Rp 21,7 miliar.
“Seperti tahun-tahun sebelumnya, penyumbang terbesar masih sektor perdagangan. Yang membedakan adalah pertumbuhan sektor pariwisata pada semester pertama tahun ini cukup signifikan,” ujar Edi.
Menurutnya, subsektor makanan dan minuman, khususnya katering, menjadi motor utama pertumbuhan pariwisata.
Program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) serta keberadaan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) turut memberi kontribusi.
“Catering ini masuk sektor pariwisata karena makanan dan minuman termasuk akomodasi,” jelasnya.
Meski begitu, capaian investasi tersebut baru 45 persen dari target 2025 yang ditetapkan Rp 542 miliar.
Nilainya juga masih lebih rendah dibanding semester pertama 2024 yang mencapai Rp 366,4 miliar.
“Semester pertama tahun ini secara year on year masih sedikit di bawah ekspektasi. Angkanya sekitar 80 persen dari tahun lalu. Tapi kita masih punya waktu enam bulan untuk mengejar target,” ujarnya.
Edi menilai perlambatan terjadi di hampir semua sektor, kecuali perdagangan, pariwisata, dan industri.
Kondisi ini, kata dia, dialami banyak daerah lain, terutama di luar wilayah strategis berbasis industri dan pertambangan.
“Banyak analisis menyebut kondisi global maupun nasional turut memengaruhi pertumbuhan investasi daerah,” terangnya.
Untuk mengejar target, DPMPTSP menyiapkan sejumlah strategi, salah satunya percepatan realisasi investasi besar yang sudah disepakati.
“Kita ingin big fish seperti pembangunan pembangkit listrik tenaga sampah segera ground breaking,” ucapnya.
Edi juga menambahkan, investasi PT Concentrix senilai Rp 1,9 triliun baru akan tercatat setelah tahap persiapan atau pekerjaan konstruksi awal dimulai.
Sementara itu, untuk sektor UMKM, pihaknya menggelar program jemput bola agar pelaporan investasi lebih optimal.
“Yang belum investasi, kalau ada peluang, bisa memanfaatkannya lewat business matching atau investment matching. Strategi ini yang kita harapkan bisa mengejar target realisasi di akhir tahun 2025,” pungkasnya. (Lia)












