Pakem Nama Orang Jawa yang Sudah Ditinggalkan, dari Paijo ke Alvaro

Pakem Nama Orang Jawa yang Sudah Ditinggalkan
Pakem Nama Orang Jawa yang Sudah Ditinggalkan

NETRA WARGA – Kalau dulu di kampung kita mengenal banyak nama seperti Sunarto, Paijo, Sumarni, atau Sulastri, sekarang coba tengok daftar hadir anak sekolah dasar.

Tiba-tiba muncul nama yang kebarat-baratan atau ketimuran seperti Alvaro dan Angel hingga Ahmad, serta Aisyah.

Perubahan ini bukan sekadar tren, tapi tanda bergesernya pakem penamaan orang Jawa yang dulu begitu kental, kini perlahan ditinggalkan.

Nama Jawa Bukan Sekadar Identitas

Dalam budaya Jawa, nama bukan asal bunyi. Ada pakem yang mengatur.

Misalnya, nama mengandung doa, harapan, dan filosofi.

Seorang anak bisa diberi nama Wagiman (wagi = cukup, man = laki-laki) sebagai simbol kesyukuran keluarga.

Atau Sumarni, yang bermakna keindahan dan kebaikan hati.

Nama-nama itu sederhana, tapi sarat makna. Bahkan ada keluarga yang masih menghitung weton atau meminta petuah sesepuh desa sebelum menentukan nama anak.

Dari Pakem Jawa ke Nama Eropa dan Timur Tengah

Sekarang, tren mulai berubah. Nama dengan nuansa Jawa kian jarang terdengar.

Banyak orang tua memilih nama yang terdengar modern ala Eropa, atau bernuansa Islami khas Timur Tengah.

Jadilah di satu kelas, kita bisa menemukan kombinasi unik: ada Kevin, ada Fatimah, ada juga Zayn Malik versi lokal.

Sementara nama Jawa klasik makin langka, kalah pamor dari nama yang dianggap lebih keren atau religius.

Kenapa Nama Jawa Tergeser?

Ada beberapa alasan. Pertama, globalisasi. Orang tua merasa nama modern memberi kesan internasional. Kedua, religiusitas.

Nama bernuansa Arab atau Timur Tengah dianggap membawa berkah.

Ketiga, faktor gengsi. Ayo jujur, banyak orang tua yang merasa bangga kalau nama anaknya kedengaran “wah”.

Padahal, nama Jawa juga tidak kalah indah dan filosofis.

Hanya saja, citra “jadul” membuatnya kurang populer di mata generasi sekarang.

Apa yang Hilang dari Pergeseran Ini?

Dengan semakin jarangnya nama Jawa, kita kehilangan jejak budaya yang melekat di identitas masyarakat.

Nama-nama itu dulu bukan hanya panggilan, tapi juga penanda sejarah dan kearifan lokal.

Coba bayangkan, kalau nanti semua nama di desa sudah bergaya internasional, bagaimana anak cucu tahu bahwa leluhurnya dulu punya tradisi memberi nama dengan filosofi mendalam?

Menghargai Nama Jawa Bukan Berarti Memaksakan

Bukan berarti kita harus berhenti memberi nama modern.

Sah-sah saja menamai anak dengan Kevin atau Aisyah.

Tapi alangkah baiknya kalau tradisi Jawa tetap dihargai.

Misalnya, mengombinasikan nama modern dengan pakem Jawa.

Kevin Prasetyo atau Aisyah Larasati bisa jadi contoh, tetap keren tapi masih punya akar budaya.

Tradisi memberi nama adalah salah satu warisan yang paling dekat dengan kehidupan kita.

Mungkin sekarang jarang terdengar nama Ponirah atau Slamet, tapi kita bisa tetap menghidupkan nilai-nilai di baliknya: kesederhanaan, doa tulus, dan filosofi hidup yang dalam.

Karena pada akhirnya, nama bukan hanya soal tren, tapi juga soal dari mana kita berasal.

Dan seperti kata pepatah, Jeneng kuwi nggawa panguripan — nama membawa kehidupan. (Lia)