Bajingan Si Pengendara Cikar, Pahlawan Jalanan di Desa

Bajingan Si Pengendara Cikar, Pahlawan Jalanan di Desa
Bajingan Si Pengendara Cikar, Pahlawan Jalanan di Desa

NETRA WARGA – Kalau Anda lahir dan besar di desa, mungkin tidak asing dengan pemandangan cikar—gerobak kayu yang ditarik sapi—melintas di jalan.

Nah, sosok yang mengendalikan cikar ini disebut bajingan.

Tenang, di sini bajingan bukan makian, tapi sebutan penuh hormat untuk pengendara cikar.

Bajingan: Profesi yang Penuh Sabar

Mengendarai cikar bukan perkara gampang. Bajingan harus punya kesabaran ekstra.

Dari menjaga dua sapi tetap kompak, memastikan muatan kayu atau hasil bumi tidak oleng, dan tetap waspada meski jalannya becek atau menanjak.

Bayangkan saja, di era motor matic serba praktis, bajingan masih setia duduk di atas kayu keras, berpanas-panasan, sambil menuntun sapi pelan-pelan.

Kalau bukan karena cinta pada pekerjaan ini, rasanya sulit bertahan.

Lebih dari Sekadar Pengendara

Bajingan bukan hanya “sopir sapi”. Mereka bagian dari denyut ekonomi desa.

Dari hasil bumi, bambu, sampai kayu jati, banyak yang dulu sampai ke pasar berkat jasa bajingan.

Bisa dibilang, sebelum ada truk colt diesel, bajinganlah logistik andalan warga.

Bahkan, banyak warga yang mengenal bajingan sebagai simbol ketekunan.

Di beberapa daerah, anak-anak kecil senang ikut naik cikar saat perjalanan panjang.

Di situlah muncul cerita, tawa, bahkan lagu-lagu rakyat sederhana yang bikin perjalanan terasa hangat.

Filosofi Hidup Seorang Bajingan

Ada filosofi tersendiri di balik pekerjaan ini. Bajingan harus tahu cara “berbicara” dengan sapinya.

Tidak bisa pakai emosi, karena sapi bukan mesin. Harus dengan kesabaran, perhatian, dan konsistensi.

Seorang bajingan yang baik tahu bahwa laju cikar bukan soal kecepatan, tapi soal selamat sampai tujuan.

Pelajaran ini sebenarnya cocok juga buat kita: jangan buru-buru, yang penting sampai dengan selamat.

Dari Jalan Desa ke Kenangan

Sekarang, profesi bajingan mulai langka. Jalan desa sudah mulus, kendaraan bermotor lebih cepat dan efisien.

Cikar pun lebih sering muncul di acara karnaval atau festival budaya.

Tapi di hati banyak warga, bajingan tetap jadi sosok yang dirindukan.

Mereka adalah pengingat bahwa dulu ada masa ketika kerja keras, kesabaran, dan ketekunan jadi kunci utama kehidupan desa.

Bajingan bukan sekadar pengendara cikar, tapi juga penjaga tradisi yang kini hampir hilang.

Menjaga Jejak Bajingan

Beberapa komunitas budaya kini berusaha menjaga warisan ini, dengan mengadakan lomba cikar atau festival bajingan.

Bukan untuk romantisasi masa lalu semata, tapi untuk memastikan generasi muda tahu: pernah ada profesi mulia yang berjalan pelan, tapi pasti, demi menghidupi banyak keluarga.

Jadi, kalau suatu hari Anda mendengar bunyi lonceng sapi dan melihat cikar melintas, jangan buru-buru menyalip.

Beri jalan, karena di atas cikar itu ada bajingan—warisan warga yang pantas dihormati, bukan dihina. (Lia)