NETRA WARGA – Pelaku usaha bingung saat suasana peringatan Hari Besar Nasional (PHBN) di Trenggalek pada bulan Agustus mendadak surut.
Pembatalan kegiatan yang biasa digelar di Alun-alun Trenggalek itu menyisakan kekecewaan mendalam bagi pelaku usaha jasa kreatif yang menggantungkan pemasukan dari momentum tersebut.
Sri Wahyuni, pelaku usaha rias, bersama sejumlah pelaku usaha lain menyambangi Kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Parbud) Trenggalek pada Kamis (24/7/2025).
Mereka menyampaikan keresahan atas pembatalan seluruh agenda PHBN, termasuk event besar seperti karnaval dan pentas seni.
Pasalnya, agenda PHBN biasanya memberi ruang ekonomi bagi sektor perias, penyedia baju adat, sound system, dekorasi, hingga kelompok seni pertunjukan.
“Kami bukan demo, ini silaturahmi. Kami menyewa ruangan ini hanya untuk menitipkan unek-unek agar diteruskan ke atasan,” ungkap Sri Wahyuni saat ditemui di Kantor Parbud.
Ia menilai, pembatalan itu menghilangkan kesempatan tahunan yang selama ini mendongkrak penghasilan pelaku jasa dan UMKM.
Sebelumnya, Kebijakan pembatalan itu diketahui merupakan keputusan langsung dari Bupati Trenggalek, setelah proses mediasi antara pedagang kaki lima (PKL) dan pihak event organizer (EO) mengenai sewa stand kegiatan tak kunjung menemui titik temu.
Ketegangan dua pihak ini berbuntut panjang hingga berimbas pada pembatalan kegiatan tahunan PHBN yang biasanya dihelat sepanjang bulan kemerdekaan.
Kendati demikian, Sri tak ingin menyalahkan PKL, tetapi mempertanyakan mengapa konflik tersebut harus berujung pada pembatalan agenda skala besar.
“Kenapa harus dibatalkan? Ini kan momen kemerdekaan. Kalau karena ada sesuatu, terus acara sebesar ini ditiadakan, itu ada apa?” ucapnya dengan nada heran.
Menurut informasi yang diterima para pelaku usaha, pembatalan tersebut belum sepenuhnya final.
Masih akan ada rapat lanjutan di internal Pemkab untuk membahas keberlanjutan kegiatan.
Hingga pertemuan siang itu, belum ada surat keputusan resmi yang diterbitkan.
Mereka berharap aspirasi yang disampaikan ke Dinas Parbud dapat menjadi jembatan agar Bupati dan jajaran mempertimbangkan ulang dampak ekonomi dari keputusan tersebut.
Sebab, lebih dari sekadar peringatan simbolis, perayaan PHBN menjadi momentum penting untuk menghidupkan ekonomi kreatif warga Trenggalek. (Lia)












