Pengrajin Reyeng Tetap Bertahan Demi Pasokan Wadah Pindang

Proses pembuatan reyeng (wadah pindang) oleh pengrajin.

NETRA WARGA | Trenggalek- Sejak pandemi COVID-19 tiga tahun lalu, Bandiyah, seorang warga Desa Sugihan, Kecamatan Kampak, Kabupaten Trenggalek, menemukan cara untuk bertahan di tengah kesulitan ekonomi dengan mengalihkan usahanya menjadi pengrajin reyeng, atau wadah bambu untuk ikan pindang.

Keterampilan membuat reyeng ini bukan hanya menjadi sumber penghasilan baginya tetapi juga bentuk dukungan terhadap kebutuhan wadah ikan pindang yang banyak digunakan di wilayah pesisir Jawa Timur.

“Saya mulai membuat reyeng sejak COVID-19, sekitar tiga tahun lalu,” ujar salah satu pengrajin reyeng, Bandiyah (52).

Reyeng buatannya dikenal berkualitas dan kerap didistribusikan ke berbagai tempat, termasuk Desa Prigi di Kecamatan Watulimo dan bahkan sampai ke Rembang.

Dengan menggunakan bambu sebagai bahan dasar, Bandiyah memperoleh sebagian besar kebutuhan bambunya dari kebun sendiri. Meski begitu, ia harus membeli bambu dari desa tetangga jika persediaan menipis.

“Setiap batang bambu dihargai sekitar Rp 5.000 hingga Rp 10.000, tergantung kualitas dan ukuran,” pungkasnya.

Proses pembuatan reyeng ini memerlukan waktu dan ketelitian. Langkah awalnya adalah menggergaji batang bambu sesuai panjang yang dibutuhkan, dilanjutkan dengan mencacah dan menghaluskan menggunakan pasah.

Setelah itu, potongan bambu dijemur hingga kering sebelum masuk ke proses perakitan. Tahap akhir melibatkan cetakan atau “reng-rengan,” yang berfungsi untuk membentuk reyeng agar berukuran seragam.

Bandiyah mengungkapkan, proses produksi memakan waktu hingga empat hari. Dalam sehari, ia mampu menyelesaikan hingga 200 reyeng.

“Biasanya pengepul datang mengambil antara 1.000 hingga 2.000 reyeng. Saat produksi ramai, saya bisa membuat hingga 5.000 reyeng,” tuturnya.

Reyeng hasil produksi Bandiyah dijual dengan harga bervariasi, sekitar Rp 20.000 hingga Rp 25.000 per 100 buah. Harga tersebut ditentukan oleh musim ikan, di mana permintaan biasanya meningkat saat hasil tangkapan melimpah.

Meski tinggal di daerah yang cukup jauh dari pesisir, sekitar 27 kilometer dari Pantai Prigi, Bandiyah tetap tekun memproduksi reyeng.

Alasan memilih membuat reyeng dibandingkan usaha lain seperti kue manco, menurutnya, karena pembuatan reyeng dianggap lebih mudah dan tidak seberat membuat kue tradisional itu.

“Pembuatan kue manco memang memerlukan tenaga yang lebih banyak, jadi saya lebih memilih membuat reyeng,” jelasnya.

Seluruh proses pembuatan reyeng dilakukan sendiri oleh Bandiyah tanpa bantuan. Ia merasa nyaman dengan pekerjaan ini meskipun tuntutan produksi kadang tinggi.

Selain itu, membuat reyeng juga sudah menjadi kegiatan umum di Desa Sugihan, di mana sebagian warga memilih untuk terlibat dalam usaha ini karena permintaan yang terus ada.

Di Desa Prigi dan daerah lain, reyeng sangat dibutuhkan untuk mengemas ikan pindang sebelum dipasarkan, sehingga produksi reyeng dari Sugihan mendapat perhatian khusus dari para pengepul.

Meski usaha ini terbilang sederhana, bagi Bandiyah, menjadi pengrajin reyeng memberi kesempatan untuk turut menghidupkan tradisi lokal dan mendukung ekonomi masyarakat pesisir yang bergantung pada sektor perikanan.

Ia berharap agar ke depannya usaha reyeng bisa semakin berkembang sehingga memberi penghidupan yang layak bagi para pembuatnya.

“Saya harap bisa terus membuat reyeng ini selama ada permintaan. Reyeng kami cukup penting, terutama untuk warga di daerah pantai yang butuh wadah ikan,” tandas Bandiyah.***

Penulis: Moch. Fakhrina Haqiqul Umam

Editor: S Munawaroh