Sandal Bangkiak, Si Kayu Berisik yang Bikin Kita Belajar Keseimbangan

Sandal Bangkiak Meski Berisik yang Bikin Kita Belajar Keseimbangan
Sandal Bangkiak Meski Berisik yang Bikin Kita Belajar Keseimbangan

NETRA WARGA – Kalau sekarang sandal kebanyakan terbuat dari karet empuk atau kulit sintetis, dulu ada satu alas kaki yang bikin penggunanya jadi seperti atlit sirkus: sandal bangkiak.

Benda khas lomba Agustusan di Indonesia ini sederhana banget, tapi kalau dipakai, dijamin bikin bunyi “tek-tok, tek-tok” yang khas.

Sandal Bangkiak Bukan Sekadar Alas Kaki

Bangkiak terbuat dari papan kayu dengan dua bilah karet atau ban bekas sebagai pengikat kaki.

Modelnya sederhana, tapi tantangannya luar biasa. Salah sedikit melangkah, bisa langsung nyungsep.

Maka, memakai bangkiak tidak sekadar soal jalan, tapi juga soal menjaga gengsi di depan teman-teman biar nggak jatuh.

Uniknya, suara “tek-tok” sandal ini justru jadi identitas.

Orang bisa tahu siapa yang datang hanya dari langkah bangkiaknya. Lebih jujur daripada notifikasi WhatsApp yang bisa di-silent.

Bangkiak dan Filosofi Keseimbangan

Di balik keunikan itu, sandal bangkiak menyimpan pelajaran hidup.

Dia mengajarkan kita untuk selalu menjaga keseimbangan.

Sedikit miring, jatuh. Terlalu cepat, terpeleset. Rasanya mirip kehidupan: kalau terlalu gegabah, bisa celaka.

Selain itu, bangkiak juga simbol kebersamaan. Permainan lomba bangkiak —yang biasanya dimainkan berdua atau bertiga dalam satu pasang sandal panjang— mengajarkan kerja sama.

Kalau salah satu orang egois, habis sudah, semua bisa ambruk bareng.

Dari Alas Kaki ke Lomba Agustusan

Sekarang, sandal bangkiak sudah jarang dipakai sehari-hari.

Tapi tiap bulan Agustus, dia kembali naik panggung. Lomba balap bangkiak jadi favorit di banyak desa, bikin tawa pecah di lapangan.

Anak kecil sampai bapak-bapak, semua jadi peserta dan penonton setia.

Meski kelihatannya receh, lomba bangkiak ini selalu ditunggu.

Soalnya, di situlah rasa persaudaraan warga terasa nyata. Tidak peduli siapa yang menang, yang penting semua bisa ketawa bareng.

Jangan Sampai Hilang Ditelan Zaman

Sandal bangkiak adalah salah satu warisan sederhana yang pantas dirawat.

Mungkin sekarang kalah pamor dari sandal modern yang empuk dan elegan, tapi bangkiak punya nilai yang tidak bisa dibeli di mall: kebersamaan, kesederhanaan, dan tawa tulus warga desa.

Jadi, kalau suatu hari Anda melihat sepasang bangkiak tergeletak di gudang, jangan buru-buru buang.

Ingatlah, itu bukan sekadar sandal kayu, tapi sepotong sejarah yang pernah membuat kita jatuh, tertawa, dan bangkit lagi bersama-sama. (Lia)