NETRA WARGA – Kalau Anda main ke sawah atau ladang di desa, coba perhatikan kepala para petani.
Hampir pasti ada satu benda yang nongkrong gagah di atasnya, caping.
Bukan, ini bukan topi dari drama kolosal Tiongkok. Ini asli produk lokal Nusantara, yang kerjaannya lebih mulia daripada sekadar menutupi rambut acak-acakan, tapi menjaga kepala dari panas dan hujan, tanpa pernah minta imbalan.
Caping Bukan Sekadar Topi
Benda berbentuk kerucut ini terbuat dari anyaman bambu atau pandan.
Bahannya murah meriah, tapi manfaatnya tidak main-main.
Dengan caping, petani bisa bekerja berjam-jam di bawah matahari terik tanpa khawatir kepala jadi gosong.
Saat hujan turun pun, caping sigap berubah jadi “payung pribadi”.
Lucunya, caping ini lebih loyal daripada payung lipat modern.
Payung bisa gampang rusak, ribet dibuka, atau hilang di masjid.
Tapi caping? Dia tetap kokoh, tinggal dipakai, dan tidak pernah rewel.
Filosofi di Balik Caping
Di balik kesederhanaannya, caping punya filosofi. Bentuk kerucut yang melebar itu seperti simbol keterbukaan, menaungi siapa saja tanpa pandang bulu.
Dari bapak petani sampai nenek-nenek yang sedang mencari rumput, semua bisa merasakan perlindungan caping.
Bagi banyak warga desa, caping juga jadi identitas. Ada yang bilang, “Petani tanpa caping, seperti soto tanpa kuah—tetap bisa, tapi rasanya hambar.”
Caping di Era Modern
Sekarang, caping bukan hanya milik petani. Anak muda yang doyan gaya vintage kadang memakainya buat konten TikTok.
Bahkan, beberapa komunitas kreatif menjadikan caping sebagai bagian fashion, entah dipadu dengan kaos oblong atau kemeja batik.
Namun, bagi warga desa, caping tetaplah caping: alat kerja yang sederhana tapi luar biasa.
Tidak perlu embel-embel brand internasional, caping sudah lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa kearifan lokal masih bertahan di tengah gempuran topi impor.
Menjaga Warisan yang Bermanfaat
Caping adalah contoh nyata bahwa warisan warga bukan hanya cerita, tapi juga benda yang masih relevan sampai sekarang.
Setiap kali kita melihat petani berjalan ke sawah dengan caping di kepalanya, itu sebenarnya pengingat bahwa hidup sederhana bisa tetap fungsional, bahkan penuh makna.
Jadi, lain kali kalau Anda menemukan caping di pojok rumah kakek, jangan buru-buru menyingkirkannya.
Siapa tahu, topi kerucut sederhana itu bisa jadi teman setia Anda ketika harus berkebun atau sekadar menjemur pakaian di siang bolong. (Lia)






