Trenggalek Diterpa 115 Bencana Alam dalam Sebulan

Trenggalek Diterpa 115 Bencana Alam dalam Sebulan
Trenggalek Diterpa 115 Bencana Alam dalam Sebulan

Netrawarga.com – Tingginya curah hujan menyebabkan ratusan kejadian bencana alam melanda Kabupaten Trenggalek selama November hingga awal Desember 2024.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Trenggalek, tercatat 115 kejadian bencana yang tersebar di 49 desa di 13 kecamatan.

Jenis bencana paling dominan adalah tanah longsor, dengan 59 kejadian dari total keseluruhan. Longsor paling parah terjadi di Kecamatan Panggul, yang mencatat 26 kasus tanah longsor dan 9 kejadian banjir.

Kepala Pelaksana BPBD Trenggalek, Stefanus Triadi Atmono, menjelaskan bahwa bencana tersebut telah menyebabkan kerusakan serius pada infrastruktur.

“Kecamatan Panggul memang menjadi yang paling terdampak, dengan 26 kejadian tanah longsor dan 9 kejadian banjir,” ungkapnya.

Di wilayah ini, longsor merusak 57 rumah dengan kerusakan ringan, 3 rumah rusak sedang, serta dua sekolah mengalami kerusakan parah.

Selain itu, banjir merusak sejumlah tempat usaha, menambah daftar dampak bencana yang signifikan. Tidak hanya longsor dan banjir, angin kencang yang tercatat sebanyak 25 kejadian turut memperparah situasi, merusak rumah dan fasilitas lainnya.

Cuaca ekstrem bahkan merenggut satu nyawa dan menyebabkan dua orang luka-luka. Meski gempa bumi tercatat sebanyak 18 kejadian, Triadi memastikan bahwa dampaknya relatif kecil.

“Meski ada gempa, alhamdulillah tidak ada kerusakan yang berarti,” tambahnya.

Saat ini, BPBD Trenggalek telah menetapkan status darurat bencana dan bergerak cepat memberikan bantuan kepada masyarakat terdampak.

Langkah tanggap darurat dilakukan dengan mengirimkan alat berat untuk membersihkan material longsor serta memenuhi kebutuhan dasar korban.

“Kami terus berkoordinasi untuk memastikan masyarakat yang terdampak segera mendapatkan bantuan yang mereka butuhkan,” tegas Triadi.

Selain itu, pemerintah daerah tengah melakukan peninjauan lapangan untuk mengajukan usulan rehabilitasi dan rekonstruksi.

Kesadaran akan pentingnya kesiapsiagaan kini menjadi sorotan utama, mengingat potensi bencana yang sulit diprediksi.

Bencana ini menjadi pengingat pentingnya mitigasi dan sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan pihak terkait untuk mengurangi risiko serta mempercepat pemulihan pasca bencana.***