Antonio Gramsci dan Intelektual Organik: Relevansinya di Indonesia Saat Ini

Siapa Antonio Gramsci Pemikir Marxis yang Disebut Budiman Sudjatmiko
Siapa Antonio Gramsci Pemikir Marxis yang Disebut Budiman Sudjatmiko

NETRA WARGA – Nama Antonio Gramsci kembali mencuat di ruang publik Indonesia setelah disebut oleh Budiman Sudjatmiko dalam sebuah acara di iNews.

Budiman, aktivis 1998 yang kini terjun ke dunia politik, mengutip pemikiran Antonio Gramsci untuk menegaskan pentingnya peran Intelektual Organik dalam membangun demokrasi dan kesadaran rakyat.

Antonio Gramsci dan Konsep Intelektual Organik

Antonio Gramsci (1891–1937) adalah filsuf politik asal Italia sekaligus salah satu tokoh penting dalam tradisi Marxis. Ia dikenal luas lewat gagasan hegemoni budaya dan intelektual organik.

Menurut Antonio Gramsci, kelas sosial tidak bisa mempertahankan kekuasaan hanya dengan kekuatan fisik semata. Mereka juga membutuhkan legitimasi moral dan kultural agar diterima rakyat. Di titik inilah, intelektual memainkan peran vital.

Gramsci membedakan dua tipe intelektual:

  1. Intelektual Tradisional – umumnya akademisi atau tokoh yang dianggap netral, tetapi dalam praktiknya kerap melanggengkan status quo.
  2. Intelektual Organik – lahir dari kelas sosial tertentu, bergerak bersama mereka, dan menjadi penyambung kesadaran rakyat.

Bagi Antonio Gramsci, perubahan sosial sejati hanya bisa terjadi jika intelektual organik hadir, mengorganisir, dan memberi arah bagi perjuangan rakyat.

Mengapa Intelektual Organik Penting?

Filsuf, Antonio Gramsci

Dalam konteks Indonesia modern, gagasan Antonio Gramsci yang dikutip Budiman terasa relevan. Ada beberapa alasannya:

  • Pendidikan politik rakyat. Demokrasi tidak cukup hanya dengan kampanye dan janji-janji. Rakyat butuh pemahaman mendalam tentang hak dan posisinya dalam negara.
  • Kontrol sosial terhadap elite. Intelektual organik berfungsi sebagai penghubung sekaligus pengawas agar kekuasaan tidak berjalan sewenang-wenang.
  • Pemberdayaan masyarakat. Perubahan nyata datang dari bawah—dari rakyat yang sadar, terdidik, dan terorganisir—bukan hanya dari keputusan elite politik.

Tanpa peran intelektual organik, demokrasi berisiko merosot menjadi ritual elektoral lima tahunan tanpa transformasi berarti bagi kehidupan rakyat kecil.

Kontribusi Gramsci dalam Teori Marxis

Antonio Gramsci memberi warna baru dalam tradisi Marxis. Konsep-konsep seperti hegemoni, masyarakat sipil, masyarakat politik, dan intelektual organik menjadi fondasi teoretis yang membuat Marxisme lebih relevan dalam dunia kapitalisme modern.

Pemikir lain seperti Louis Althusser kemudian mengembangkan ide Antonio Gramsci, khususnya terkait “aparatus ideologis negara”.

Teori Althusser banyak dipengaruhi oleh konsep Antonio Gramsci tentang masyarakat sipil sebagai pilar sosial kekuasaan.

Bahkan, gagasan perang posisi Antonio Gramsci menjadi cikal bakal bagi teori perjuangan ideologis yang lebih terstruktur.

Lebih jauh, Antonio Gramsci menekankan bahwa proletariat tidak bisa berdiri sendiri. Untuk merebut kekuasaan, mereka harus mendapatkan dukungan dari kelas sosial lain.

Hal ini menuntut mereka menghindari dogmatisme dan sempitnya kepentingan korporatis.

Dengan cara itu, Antonio Gramsci berhasil meluruskan kembali teori Marxis dari kecenderungan mekanistik di era Stalin maupun revisionisme dalam Internasional Kedua.

Ia memperkuat tradisi materialis dialektis Marx dan Engels melalui “filsafat praksis”, yaitu filsafat yang menyatu dengan perjuangan kelas pekerja.

Relevansi Gramsci di Indonesia

Ketika Budiman Sudjatmiko mengutip Antonio Gramsci, pesan yang ingin ditegaskan ialah: demokrasi tidak akan kuat tanpa rakyat yang sadar dan terdidik.

Intelektual organik menjadi kunci agar rakyat tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga aktor utama dalam sejarah.

Di tengah krisis demokrasi yang kerap terjebak pada formalitas elektoral, gagasan Gramsci membuka ruang refleksi: apakah Indonesia sudah memiliki cukup intelektual organik yang lahir dari rakyat, berjuang bersama rakyat, dan benar-benar membawa aspirasi rakyat ke meja kekuasaan?