Dipukul Biar Jernih: Nostalgia Televisi Tabung Zaman 90-an

Dipukul Biar Jernih: Nostalgia Televisi Tabung Zaman 90-an
Dipukul Biar Jernih: Nostalgia Televisi Tabung Zaman 90-an

NETRA WARGA – Televisi tabung adalah salah satu benda yang paling melekat dalam ingatan generasi 90-an.

Berbeda dengan televisi tipis dan canggih yang kita kenal sekarang, TV tabung memiliki tubuh besar, berat, dan sering kali rewel.

Saat gambarnya burem atau berbayang, cara paling cepat yang dilakukan adalah memukul bagian samping atau atas televisi.

Ajaibnya, pukulan sederhana itu justru sering membuat gambar kembali jernih.

Fenomena ini menjadi ciri khas yang membuat televisi tabung tak terlupakan.

Selain urusan pukul-memukul, ada ritual lain yang identik dengan televisi tabung, yakni urusan antena.

Hampir setiap keluarga punya cerita tentang betapa repotnya mencari siaran yang bagus.

Anak kecil biasanya jadi “korban” yang diminta naik ke atap rumah untuk memutar antena.

Dari bawah rumah, akan terdengar teriakan, “Udah jernih belum?” – sebuah komunikasi khas rumah tangga Indonesia era 90-an.

Ritual Keluarga di Depan Televisi Tabung

Televisi tabung lebih dari sekadar barang elektronik, ia adalah pusat hiburan keluarga.

Dari pagi hingga malam, layar kaca menjadi teman setia.

Hari Minggu pagi misalnya, anak-anak akan menunggu kartun favorit yang hanya tayang sekali seminggu.

Sore harinya, giliran acara kuis atau serial luar negeri yang ditonton bersama.

Malam hari, televisi tabung berubah fungsi menjadi perekat keluarga.

Sinetron, berita malam, hingga acara lawak menjadi agenda wajib.

Tak jarang, keluarga berkumpul di ruang tamu dengan suguhan teh hangat atau camilan sederhana.

Kehangatan inilah yang sulit ditemukan di era gadget saat ini, ketika setiap orang lebih sibuk menatap layar pribadi.

Suara dan Tampilan yang Melekat di Ingatan

Bagi generasi yang tumbuh bersama televisi tabung, ada detail-detail kecil yang sulit dilupakan.

Misalnya, bunyi “cetrek” ketika tombol power ditekan, lalu muncul titik putih kecil di tengah layar yang perlahan melebar menjadi tampilan penuh.

Suara khas ini seakan menjadi tanda bahwa dunia hiburan sebentar lagi dimulai.

Belum lagi bentuk fisiknya yang besar dan berat, membuatnya sulit dipindahkan.

Namun, justru karena itulah televisi tabung sering menjadi “meja tambahan”.

Banyak keluarga menaruh taplak kain di atasnya, lengkap dengan hiasan keramik, foto keluarga, bahkan vas bunga plastik.

Televisi bukan hanya media hiburan, tapi juga bagian dari dekorasi rumah.

Dari Televisi Tabung ke Smart TV

Perjalanan teknologi membuat televisi tabung akhirnya tergeser oleh televisi layar datar, hingga kini berkembang menjadi smart TV.

Semua serba praktis: cukup menekan remote, siaran digital langsung muncul dengan gambar jernih.

Tidak perlu lagi memutar antena, apalagi memukul sisi televisi.

Namun, justru kesederhanaan televisi tabunglah yang membuat banyak orang rindu. Ada kenangan bersama yang tidak tergantikan.

Menunggu kartun favorit, mengutak-atik antena, hingga momen kocak ketika gambar tiba-tiba jernih setelah dipukul, semuanya menjadi bagian dari kisah masa kecil yang manis.

Di Balik Televisi Tabung: Kenangan yang Tak Terhapuskan

Televisi tabung mungkin sudah jarang ditemui hari ini. Bahkan, sebagian anak muda mungkin hanya tahu dari cerita orang tuanya.

Tetapi, di balik benda besar dan berat itu, ada cerita sederhana tentang kebersamaan, kesabaran, dan kreativitas orang Indonesia menghadapi keterbatasan teknologi.

Bagi generasi 90-an, televisi tabung bukan sekadar alat hiburan, tapi saksi bisu perjalanan hidup.

Ia menjadi penghubung antara anggota keluarga, sekaligus simbol zaman di mana menunggu acara televisi adalah bagian dari rutinitas yang menyenangkan.

Kini, televisi tabung telah menjadi nostalgia. Tapi setiap kali kita mengingat kebiasaan “dipukul biar jernih”, senyum pasti muncul di wajah.

Karena di balik benda sederhana itu, tersimpan kenangan indah yang membuat era 90-an terasa begitu hangat dan penuh cerita.