NETRA WARGA – Kalau dulu orang bilang pengangguran itu masalah anak muda, sekarang ternyata tidak.
Data pengangguran terbaru menunjukkan, dari yang baru lulus sekolah sampai yang sudah kakek-nenek, antre jadi jobseeker semua.
Pengangguran kini seperti kuota internet: tersedia untuk semua umur.
Kelompok usia 15–24 tahun memang masih juara bertahan.
Hampir separuh pengangguran ada di sini. Ironisnya, ini generasi yang paling sering dibilang “bonus demografi”.
Bonusnya sih ada, tapi entah kenapa lebih mirip voucher diskon yang belum bisa dipakai.
Yang umur 25–34 juga tak mau kalah. Katanya sudah mapan, tapi jumlah penganggurannya malah naik.
Sementara kelompok 35–44 tahun justru menurun, mungkin karena sebagian sudah menyerah jadi pencari kerja dan banting setir ke usaha apa saja, dari jualan kopi sampai jadi admin grup WhatsApp RT.
Yang bikin geleng-geleng kepala, kelompok 55 tahun ke atas juga ikut naik.
Jadi jangan heran kalau nanti ada lowongan kerja yang pelamarnya campur: fresh graduate duduk sebangku dengan bapak-bapak beruban, sama-sama menunggu giliran dipanggil HRD.
Pemerintah bilang, mereka yang masuk kategori pengangguran ini ada yang sedang cari kerja, ada yang nyiapin usaha baru, ada juga yang tidak lagi berharap.
Jadi, definisi pengangguran sekarang makin luas, hampir seperti definisi “teman dekat” di media sosial.
Kabar baiknya, jumlah orang yang bekerja juga naik. Artinya, meski antrean pengangguran panjang, sebagian orang tetap berhasil lolos.
Kabar buruknya, yang belum lolos jumlahnya masih jutaan.
Yah, semoga saja ke depan, pengangguran tidak lagi jadi profesi terbuka lintas usia. (Lia)








