Diawali Sumpah Pemuda Dilanjutkan Garuda Muda

Ilustrasi supporter Garuda Muda (X/Twitter)

NETRA WARGA | Swara Warga- Sejarah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tidak bisa dipisahkan dari peristiwa Sumpah Pemuda yang terjadi pada 28 Oktober 1928.

Pada saat itu, pemuda-pemudi dari berbagai daerah di seluruh Indonesia yang sebelumnya terpecah oleh identitas etnis, agama, dan wilayah, bersatu dalam ikrar kebangsaan.

Hasil pertemuan tersebut menjadi fondasi persatuan Indonesia; satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa.

Semangat yang menempatkan persatuan di atas perbedaan ini terus hidup dalam berbagai konteks kehidupan berbangsa termasuk di dunia sepak bola (Wartamana, & dkk, 2021).

Salah satu perwujudan paling nyata dari spirit Sumpah Pemuda ini terlihat dari supporter dari tim lokal sepakbola di seluruh Indonesia bersatu untuk mendukung Tim Nasional (Timnas) sepakbola Indonesia.

Seperti yang kita ketahui timnas senior Indonesia sedang mengarungi kualifikasi piala dunia ronde ke tiga.

Seperti yang kita ketahui, timnas senior Indonesia sedang mengarungi kualifikasi Piala Dunia ronde ketiga.

Euforia mendukung tim nasional tidak hanya hadir di stadion, melainkan juga tampak di berbagai tempat melalui kegiatan nonton bareng (nobar) yang diselenggarakan oleh suporter.

Fenomena nobar ini bukan sekadar ajang hiburan, melainkan mencerminkan semangat kebersamaan dan identitas nasional yang kuat.

Dalam konteks ini, Pierre Bourdieu melalui konsep habitus menjelaskan bahwa nilai kebersamaan suporter bukanlah sesuatu yang lahir seketika, melainkan hasil dari serangkaian praktik sosial yang tertanam dalam budaya kolektif masyarakat (Bourdieu, 1984).

Oleh karena itu, nobar tidak hanya menjadi ritual menonton pertandingan, tetapi juga menjadi media komunikasi untuk mengekspresikan identitas dan solidaritas sebagai bangsa Indonesia.

Suporter sepak bola di Indonesia terkenal dengan keragaman identitasnya yang mewakili berbagai klub dari berbagai daerah.

Setiap klub sepak bola di Indonesia memiliki basis pendukung masing-masing yang sangat loyal terhadap klub.

Hal ini dapat kita lihat seperti contohnya adalah Persija Jakarta dengan suporternya Jakmania, Persib Bandung dengan suporternya Bobotoh dan PSBI Blitar dengan suporternya freedom gate.

Rivalitas antar suporter klub tersebut sering kali memanas, baik di dalam maupun di luar stadion dengan tensi yang dipicu oleh sejarah panjang persaingan antar klub.

Namun, ketika ada pertandingan Timnas Indonesia tiba batas-batas rivalitas antara supporter tersebut menghilang.

Dari Aceh hingga Papua, dari Jakmania hingga Bobotoh, ribuan suporter klub mengesampingkan perbedaan warna bendera klub mereka untuk bersatu dalam satu warna, merah putih.

Di tribun stadion mereka hadir sebagai “ultras Garuda dan la grande Indonesia” yang menyanyikan yel-yel sama (Maulana, 2024).

Mengibarkan bendera Merah Putih serta bersatu dengan harapan yang sama, yaitu kemenangan bagi Timnas Indonesia.

Ini bukan hanya soal mendukung tim sepak bola tapi merupakan tentang merayakan persatuan dan identitas kebangsaan.

Spirit Sumpah Pemuda ini tampak dalam setiap laga Timnas Indonesia bermain.

Hal ini dapat kita lihat dari ribuan suporter dari berbagai latar belakang perbedaan tersebut menyanyikan lagu kebangsaan “Indonesia Raya” dengan penuh penghayatan.

Semangat kebangsaan yang berakar sejarah dari sumpah pemuda ini terasa hidup kembali.

Nyanyian lagu kebangsaan dan yel-yel yang mereka nyanyikan bukan sekadar ritual pertandingan.

Akan tetapi, hal ini juga mencerminkan bahwa di atas segala perbedaan dan rivalitas mereka adalah persatuan seluruh suporter Indonesia (Jibar, 2024).

Semangat ini semakin terasa ketika suporter dari berbagai klub saling berangkulan untuk membuat koreografi yang didedikasikan bagi Timnas.

Tidak terlihat lagi Jakmania dan Bobotoh sebagai rival melainkan sebagai saudara yang sama-sama mencintai timnas Indonesia.

Persatuan supporter ini adalah wujud nyata dari “ikrar satu bangsa” sebagaimana yang dicetuskan dalam Sumpah Pemuda.

Ketika suporter berkumpul di tribun, mereka tidak lagi beridentitas sebagai pendukung klub tertentu, melainkan sebagai rakyat Indonesia yang ingin melihat Merah Putih berkibar di puncak kemenangan.

Selain itu, supporter di atas juga sering mengadakan acara nonton bareng (nobar) yang mempersatukan suporter dari berbagai klub asalnya.

Ini merupakan upaya untuk menumbuhkan rasa saling menghargai dan persaudaraan di antara suporter yang berbeda identitas.

Dalam konteks dukungan untuk Timnas, semangat sumpah pemuda bukanlah sekadar romantisme sejarah.

Munculnya komunitas pendukung Timnas yang anggotanya dari berbagai basis klub menunjukkan bahwa persatuan masih bisa di wujudkan di masa sekarang.

Komunitas seperti Ultras Garuda dan La Grande Indonesia adalah contoh nyata bagaimana suporter dari berbagai klub dapat bersatu dengan satu tujuan yaitu mendukung Timnas Indonesia tanpa memandang asal-usul klub mereka (Ngadimin, & Sazali, 2024).

Semangat persatuan ini semakin kuat seiring dengan meningkatnya prestasi Timnas Indonesia di kancah internasional.***

Penulis: Ahsanu Syauqi Al MubarokEditor:

Meilia Wulandari