NETRA WARGA – Di banyak jalan kampung, ada pemandangan yang lebih semrawut daripada rambut bangun tidur, kabel komunikasi yang menjuntai seenaknya.
Ada yang melintang dari tiang ke tiang, ada yang nyaris menyentuh kepala orang lewat, bahkan ada yang sukses berubah jadi jemuran darurat untuk kain lap.
Rasanya, kabel-kabel itu seperti punya nyawa sendiri—bebas berkeliaran tanpa kenal aturan.
Warga yang protes sering kali hanya dapat jawaban standar: “Tenang, nanti dirapikan.” Tapi “nanti” itu misterius, seperti janji diet setelah Lebaran.
Kadang sudah bertahun-tahun, yang berubah cuma warna kabel karena debu dan panas matahari, sementara posisinya tetap menjuntai penuh gaya.
Lucunya, para penyedia layanan seolah punya hobi baru, nebeng di tiang listrik atau lampu jalan tanpa izin.
Tiangnya punya siapa, kabelnya punya siapa, tapi ujung-ujungnya yang pusing tetap warga.
Apalagi kalau malam, kabel rendah bisa jadi jebakan terselubung. Satu lengah, kepala bisa langsung kejedot.
Katanya, sebentar lagi akan ada aturan khusus yang mengatur soal kabel ini.
Jadi, kalau benar terealisasi, kita bisa berharap kabel-kabel itu tak lagi menjuntai seenaknya, dan penyedia layanan wajib punya tiang sendiri.
Bayangkan betapa indahnya kalau jalanan terbebas dari kabel semrawut; tiang-tiang berdiri rapi, kabel tersusun seperti barisan prajurit, dan warga tak perlu lagi main limbo tiap lewat gang.
Meski begitu, kabarnya aturan itu masih digodok. Jadi untuk sementara, kabel-kabel tetap bisa melanjutkan hobinya: jadi pengganggu pemandangan sekaligus bahan keluhan warga.
Yah, semoga kali ini “nanti dirapikan” benar-benar berarti nanti… bukan besok yang tak pernah datang. (Lia)







