Viral Longsor di Bendungan Bagong, Pengawas Tegaskan Tidak Ganggu Pembangunan

Viral Longsor di Bendungan Bagong, Pengawas Tegaskan Tidak Ganggu Pembangunan
Viral Longsor di Bendungan Bagong, Pengawas Tegaskan Tidak Ganggu Pembangunan

Netrawarga.com – Sebuah video yang memperlihatkan kerusakan tembok di Bendungan Bagong, Trenggalek, akibat tanah longsor sempat beredar luas.

Dalam rekaman tersebut, terlihat bahwa bagian tertentu dari proyek bendungan yang terletak di Kecamatan Bendungan tersebut mengalami dampak cukup signifikan.

Pengawas Utama Proyek Bendungan Bagong BBWS, Sriwahyudi, membenarkan bahwa kejadian tersebut sebenarnya adalah sliding (merosot).

Dirinya juga mengungkapkan bahwa kejadian itu terjadi pada Jumat (21/2/2025) akibat hujan deras yang mengguyur kawasan tersebut.

“Kejadian tersebut terjadi sekitar hari Jumat akibat intensitas hujan tinggi,” ungkapnya.

Kerusakan Capai 2.000 Meter Persegi

Kerusakan Bendungan Bagong Capai 2.000 Meter Persegi

Sliding tersebut mengakibatkan kerusakan pada lapisan Shotcrete, yaitu teknik penyemprotan beton yang berfungsi untuk memperkuat lereng dan mencegah longsor.

“Sliding terjadi di bagian antara bangunan Medan dan bangunan Spillway, tepatnya di atas bangunan pengelak terowongan,” jelas Sriwahyudi.

Menurutnya, luas area terdampak diperkirakan mencapai 1.500 hingga 2.000 meter persegi.

Pembangunan Bendungan Bagong Tetap Berjalan

Pembangunan Bendungan Bagong Tetap Berjalan

Meskipun terjadi sliding, pihak pengawas memastikan bahwa kejadian ini tidak berdampak pada pembangunan inti bendungan.

“Tidak mengganggu pelaksanaan pembangunan sama sekali. Pekerjaan tetap berjalan seperti biasa tanpa berpengaruh pada struktur utama,” tegas Sriwahyudi.

Ia juga menjelaskan bahwa pemasangan Shotcrete sebelumnya telah dilakukan dengan mempertimbangkan faktor cuaca dan kestabilan tanah.

“Sebetulnya sudah kami perhitungkan agar tanah tidak terkikis saat hujan. Oleh karena itu, kami lapisi dengan Shotcrete,” imbuhnya.

Sebagai tindak lanjut, pihaknya akan melakukan evaluasi lebih mendalam untuk menganalisis kondisi tanah di lokasi terdampak.

“Memang perlu kajian ulang terkait masalah tanahnya. Kami akan meneliti hingga kedalaman tertentu untuk menentukan langkah penanganan selanjutnya,” pungkasnya.***