Netrawarga.com – GMNI Trenggalek sempat melayangkan pernyataan sikap soal pembangunan Bendungan Bagong yang dirasa memberikan dampak buruk pada masyarakat.
Surat pernyataan sikap itu dilayangkan untuk menyoroti Analisis Masalah Dampak Lingkungan (AMDAL) dari Bendungan Bagong.
Terlepas dari masalah tersebut, Bendungan Bagong digadang-gadang dapat memberikan multifungsi bagi masyarakat Trenggalek.
Dikutip dari brantas-abipraya.co.id, Bendungan Bagong bertujuan untuk memenuhi misi ketahanan pangan dan ketahanan air dalam Program Strategis Nasional (PSN) Pemerintah.
Selain itu, Bendungan Bagong juga berfungsi sebagai pengendali banjir, sumber daerah irigasi, sumber pembangkit listrik dan juga berpotensi menjadi destinasi baru pariwisata.
Secara lebih rinci, Bendungan Bagong diproyeksi dapat mendukung kebutuhan air baku di Kecamatan Pogalan, Trenggalek.
Sebagai informasi, Bendungan Bagong terletak di Desa Sumurup dan Sengon, Kecamatan Bendungan yang berjarak 10 kilometer dari pusat kota Kabupaten Trenggalek.
Bendungan Bagong mendapatkan sumber air yang berasal dari Sungai Bagong dengan luas Daerah Aliran Sungai (DAS) 39,95 kilometer persegi.
Lebih lanjut, Bendungan Bagong didesain dengan tipe urugan zonal, Bendungan Bagong ini memiliki tinggi puncak inti tegak 82 meter dan panjang 678 meter.
Bendungan Bagong digadang-gadang memiliki kapasitas tampung 17,40 juta meter kubik.
Selain itu Bendungan Bagong ini juga berfungsi untuk mengurangi debit air Sungai Bagong sebesar 78,44 persen.***











