Rumpun Bambu Tersangkut di Pilar Jembatan Diduga Penyebab Banjir di Trenggalek

Rumpun Bambu Tersangkut di Pilar Jembatan Diduga Penyebab Banjir di Trenggalek
Rumpun Bambu Tersangkut di Pilar Jembatan Diduga Penyebab Banjir di Trenggalek

Netrawarga.com – Warga Kelurahan Kelutan dan sekitarnya diimbau segera membersihkan sungai saat cuaca cerah untuk menghindari banjir.

Hal ini menyusul temuan bahwa banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kecamatan Trenggalek disebabkan oleh rumpun bambu yang tersangkut di pilar jembatan Dusun Punjung, Kelurahan Kelutan.

Rumpun bambu tersebut menghalangi aliran Sungai Ngasinan, memicu meluapnya air hingga meyebabkan banjir yang merendam beberapa desa dan kelurahan.

Pemerintah Kabupaten Trenggalek bergerak cepat dengan menurunkan alat berat untuk mengevakuasi material yang menghambat aliran sungai.

Bupati Trenggalek: Fokus pada Pencegahan Banjir Susulan
Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin, memimpin langsung upaya pembersihan di lokasi. “Kami segera mengevakuasi rumpun bambu dari pilar jembatan untuk mencegah banjir susulan dan menghindari kerusakan infrastruktur jembatan yang lebih parah,” jelasnya.

Banjir ini diketahui dipicu hujan deras sejak Minggu malam (15/12), yang menyebabkan Sungai Ngasinan meluap.

“Kami akan memastikan proses pembersihan berjalan cepat agar tidak terjadi hal serupa di masa mendatang,” tambah Mas Ipin.

BPBD dan Pemkab Siapkan Penanganan Darurat
Kepala Pelaksana BPBD Trenggalek, St. Triadi Atmono, menyebutkan bahwa banjir telah merendam tujuh hingga delapan desa atau kelurahan.

BPBD bersama pemerintah daerah langsung melakukan langkah tanggap darurat dengan mendistribusikan bantuan makanan dan mendirikan dapur umum di beberapa titik, seperti di Dinsos dan PMI.

“Distribusi makanan sudah kami lakukan, dan dapur umum didirikan untuk memenuhi kebutuhan warga terdampak. Kami juga terus memantau wilayah terdampak untuk langkah penanganan selanjutnya,” ujar Triadi.

Kelurahan Kelutan: Titik Banjir Terparah di RT 11 dan 12
Lurah Kelutan, Pamudji Rohmat, menjelaskan bahwa RT 11 dan RT 12 menjadi wilayah terendah yang terdampak banjir akibat meluapnya Sungai Ngasinan.

Ia menambahkan bahwa koordinasi terus dilakukan untuk mempercepat penanganan bencana ini.

“Pembersihan sungai, evakuasi material, dan distribusi bantuan kepada warga menjadi prioritas utama. Kami berharap pintu apung yang tertutup akibat meluapnya sungai dapat segera terbuka setelah air surut,” imbuhnya.

Pemerintah Kabupaten Trenggalek bersama BPBD mengimbau masyarakat untuk tetap waspada selama puncak musim hujan yang diperkirakan berlangsung hingga Januari 2025.

Selain itu, langkah pencegahan, seperti pembersihan sungai secara rutin, diharapkan dapat mengurangi risiko banjir di masa mendatang.***