Lebih Hebat dari Beras Oplosan, Pupuk Palsu Jago Sulap Kayak Houdini

Lebih Hebat dari Beras Oplosan, Pupuk Palsu Bisa Sulap Kayak Houdini
Lebih Hebat dari Beras Oplosan, Pupuk Palsu Bisa Sulap Kayak Houdini

NETRA WARGAPetani sekarang bukan cuma dituntut jago bertani, tapi juga harus jadi detektif.

Bayangkan, pupuk yang dibeli dengan uang hasil ngutang sana sini ternyata palsu.

Alih-alih bikin padi tumbuh subur, hasilnya malah kayak rumput tetangga yang tak pernah disiram: merana.

Lebih ajaib lagi, pupuk palsu ini seolah-olah lebih pintar dari sulap.

Kemasan bisa mirip, warna bisa sama, bahkan labelnya terlihat resmi.

Bedanya, kalau sulap bikin penonton terhibur, pupuk palsu bikin petani kelabakan.

Satu musim tanam bisa ambyar, dompet ikut tipis, dan cita-cita panen raya berubah jadi utang menumpuk.

Bukan cuma pupuk, beras pun ternyata tak mau kalah.

Ada beras oplosan yang katanya premium, padahal kualitasnya jauh dari janji.

Harga selangit, mutu entah ke mana. Jadi pembeli berasa ikut main lotre: kalau beruntung dapat beras lumayan, kalau apes dapat beras yang lebih cocok jadi pakan burung.

Pejabat sudah bersuara lantang: ini bukan sekadar urusan ekonomi, tapi juga menyangkut kemanusiaan.

Wajar saja, sebab kalau petani gagal panen gara-gara pupuk palsu, efeknya bukan cuma dapur mereka, tapi juga dapur kita semua.

Apalagi kalau beras oplosan terus berkeliaran, nasib perut orang banyak jadi taruhannya.

Lucunya, di balik ancaman serius ini, selalu saja ada yang berkelit: katanya hanya kesalahan distribusi, atau masalah teknis.

Padahal yang teknis itu seharusnya pupuknya, bukan akalnya. Semoga saja janji pemerintah menindak tegas kali ini tidak ikut-ikutan jadi palsu.

Kalau tidak, bisa-bisa besok pupuk asli malah terasa seperti legenda: sering diceritakan, tapi sulit ditemukan. (Lia)